Showing posts with label YA. Show all posts
Showing posts with label YA. Show all posts

Friday, September 30, 2016

[QR] The Rose & The Dagger (The Wrath & the Dawn #2)

rosedagger

Gosh, I'm melting....

Sweet Romance story by Renee Ahdieh. at the beginning, I thought this book is one of fantasy. But after read The Wrath & The Dawn then I realized that the fantasy itself is about a little bit magic and the rug, other than that I prefer to called it Romance.

Sebuah kisah manis yang ditorehkan oleh Renee Ahdieh dengan mengangkat kisah yang berlatar belakang negeri 1001 malam. Sebuah perjuangan cinta dari sang raja pembunuh dan perempuan yang bertekad untuk membunuhnya. Masih ditulis dengan apik dan mengalir di setiap kata-katanya, mudah untuk dibaca dan dimengerti sekaligus untuk di-imajinasikan dalam putaran otak pembaca. Setiap adegan terlihat jelas meski ada yang kurang masuk diakal, seperti "menendang pisau", they're in the desert, right? is it possible to do that without kicked the sands too. Sepele, tapi cukup untuk membuat saya terikat dengan kalimat tersebut setelah beberapa halaman.

Meski dari segi cerita tak secemerlang seperti buku pertamanya akan tetapi dilihat dari keseluruhan cerita buku ini berhasil menyajikan akhir yang, tentu saja kurang memuaskan saya tapi berhasil menutup kisah dengan cantik. Saya pribadi (bilang saya kejam) tapi ingin aksi yang menegangkan, memacu adrenalin di akhir cerita untuk mengantarkan anti klimaks. Pada buku ini terlihat datar, meski baru sadari pada akhirnya "apakah buku seperti ini cocok dengan hal yang kejam didalamnya".

Masih banyak hal yang ditinggalkan begitu saja tanpa menjadi perhatian, Seperti kisah sang sultan, sang ayah, sang prajurit yang kesemuanya dianggap seperti angin lalu, seperti kisah yang tak terbantahkan yang diabaikan begitu saja. Bahkan kisah tentang karakter dan benda yang dibawanya tidak diceritakan lebih lanjut. Padahal menurut saya, kisah mereka bisa menambah buku ini menjadi lebih kuat. Penulis memutuskan bahwa kisah-kisah mereka harus diselesaikan dalam angan.

Tapi meski begitu, 4 bintang untuk buku yang sukses membujuk saya menyelesaikannya dengan cepat dan puas.

PS. Terjemahannya sendiri, saya bilang memuaskan meski beberapa kalimat harus dibaca dua tiga kali dan typo yang cukup menganggu. "membingungkankannya", "tergkurap" dan beberapa lainnya.

Saturday, September 10, 2016

[GR] The Invasion of the Tearling (The Queen of the Tearling #2)

tearling 

The Invasion of the Tearling by Erika Johansen
My rating: 2 of 5 stars

Entahlah... apa yang kupikirkan saat memberikan 2 untuk buku ini. Mungkin karena kesan yang saya dapatkan seperti itu ataukah karena ada alasan lain? Entahlah.

Sebagian besar kisah yang ada dalam buku ini bisa dibilang membosankan, terkesan dipanjang-panjangkan dan tidak masuk diakal.

Peperangan di depan mata, tapi waktu yang dilewatkan dengan kisah yang bisa dibilang tidak berhubungan. Cinta, politik, dan kisah lain pra penyebarangan yang ditulis dengan panjang. tapi apakah kisah itu tidak beralasan? jawabannya tidak. Karena cerita yang ditorehkan turut membangun buku ini secara global, mempelajari sejarah berdirinya Tear, mempelajari garis keturunan dan sebagainya. Sayangnya, bagi saya pribadi terlalu panjang.

Cerita utamanya sendiri mengalami hal yang sama, apalagi pada bagian awal yang penuh dengan narasi deskripsi, yang jujur saja membuat saya seperti membaca buku pelajaran yang penuh dengan teori. Lagi-lagi, apakah kisah itu tidak beralasan? jawabannya masih sama, tidak. karena turut membangun dunia yang ada di dalam buku ini, akan tetapi bukankah itu seharusnya diceritakan sedari awal, termasuk tentang Tearling itu sendiri. Itu hak penulis sebenarnya, dimana dia akan mengangkat dan menuliskan cerita pada bukunya. Tapi saya sebagai pembaca, melihat bahwa pada buku ini menjadi terlalu panjang KARENA mereka akan menghadapi peperangan, yang sepertinya diabaikan pada hampir lebih dari separo buku.

Untungnya, satu bab yang diletakkan di belakang bisa membantu menaikkan rasa penasaran pembaca dan bertanya-tanya apakah yang akan terjadi selanjutnya.

Jadi, siapa sebenarnya Mandy?

NB: Prajurit berseragam merah putih yang mengingatkan saya kepada prajurit skandinavia dan sejenisnya (tentu saja karena ini di Eropa) pada sampul bukunya, sangat bertolak belakang dengan kesan yang saya dapatkan dari buku ini yang kelam. Bayangan saya adalah warna-warna gelap dan kusam XD. Dan selama ini saya pikir Kelsea nggak pakai mahkota karena belum ditemukan XD


StampView all my reviews

Tuesday, September 6, 2016

[GR] Daughter of Smoke & Bone (Daughter of Smoke & Bone #1)


Smoke 

Daughter of Smoke and Bone - Dari Asap dan Tulang by Laini Taylor

My rating: 3 of 5 stars
Paperback, 488 pages

Published September 2012 by Gramedia Pustaka Utama (first published September 27th 2011)

Original Title:  Daughter of Smoke & Bone

ISBN13: 9789792287813

Edition Language: Indonesian

3 is generous enough

reading this book is like a landslide..
when it's opened with a good story and ended with a bad one. almost bored to the end.

at first opening the pages is a kind of a great feeling and exciting in every part, because Karou's life and love is more interesting than the other stories. and yeah, i really don't care where she come from.

at the middle, the story begin to start sinking for me. new character that interesting yet mysterious, the development gone to the direction that i'm not really expected to.

at the end, it's all about her story or to be exact is all about herstory (history), where she came from, what is she etc. even it's end up with 'question' line what will happen next. even though this part is not as thick as any other part but, the story makes this one thicker.

---------
Sebenarnya pada awal mula cerita, buku ini mempunyai daya tariknya tersendiri. saya kira buku ini mengenai kehidupan sang karakter utama, sekarang. tapi kenyataannya, buku ini lebih berisi tentang sejarah hidup Karou dan siapa dia sebenarnya, yang menurut saya sebenarnya cukup membosankan. latar belakang tokoh memang sangat penting tapi, disini, penulis seolah mengulur-ulur waktu demi tercapainya jumlah halaman buku. sedari pertengahan halaman yang akhirnya dikisahkan pada akhir bagian buku dengan cukup membosankan.

World building-nya sendiri tidak terlalu kuat bagi saya, bahkan berulang kali saya meyakinkan dan mengingatkan bahwa kejadian ini berlangsung di Praha, itu juga karena membaca kata tersebut pada buku ini, ketika otak mengacu pada budaya dan kultur amerika dengan gedungnya, yang tidak cukup menegaskan keberadaan bangunan yang menjadi faktor pendukung cerita seperti di Praha.

Dari segi emosi, buku ini tidak terlalu banyak mempengaruhi emosi saya yang biasanya terbawa dalam suasana dan kisah yang dialami karakternya.

Kesimpulannya, sebagai bacaan buku ini jangan diharapkan lebih, pada permulaan boleh tapi semakin bertambahnya halaman, buat saya semakin membosankan. Mudah-mudahan buku selanjutnya lebih berfokus pada kehidupan Karou yang sekarang dan tidak diombang-ambingkan dalam cerita yang tak tentu arah.


StampView all my reviews

Tuesday, August 30, 2016

[GR] Defiance (Defiance #1)

Defiance.jpg 




Defiance by C.J. Redwine
My rating: 2 of 5 stars

2 stars for this book

all of the thing about this book is at the middle of nowhere, at least for me.

the world building is not decent enough for picturing the entire village/ kingdom yet the world. everything is wrote around the character which ridiculous long and waste a lot of the pages from this books, that made the story is still going nowhere.

there are two of them whom became the main focus in this book, Rachel and Logan and the story about them are switches in every chapter of this book, and of course drama between them is happen A LOT.

So, based on what i read 1/3 of this book is about Rachel and Logan and their drama of course. 1/3 is about the character itself, either main characters or support and the rest is about the problem they're facing.

Rachel, a woman that thinks that she is brave and smart but the other hand she just a daughter who confused with what happen and lost in the way to figure it out.

Logan, a man who rejects Rachel but on the contrary, he just realize that he's falling in love with her. Smart enough to make a plan and figure out thing but sometimes he is over thinking and have too much scenario in his brain. I know that he call it cautious but kinda makes him a little weak, for me.

The Commander, Jared and any other characters. Can't saying much of them because like what i'm saying in the first place, this book is not about them. XD

StampView all my reviews

Tuesday, August 16, 2016

[GR] Hades (Halo #2)

Hades (Halo, #2)Hades by Alexandra Adornetto
My rating: 1 of 5 stars

is there any chance to put Half star in this one...or Zero maybe ( because if i leave it blank many ppl will think that i forgot to rate it) lol

need so much effort finish this. yes i read it only in one day...one day of torture for my eyes, my brain and my back XD

the reason why i try so hard to finish it is just because i want to puth them onto my box so I can use the space on my shelf for the other XD
=====

Buku ini benar benar memberikan warna tersendiri bagi hidupku. hahahaha....untungnya semangat demi hal positif bisa mengalahkan ketebalan buku ini. masih dengan pendapat yang saya seperti sebelumnya, buku ini benar-benar memainkan emosi pembacanya... pembacanya yang pengen melempar buku ini jauh-jauh, menginjaknya atau mungkin membakarnya (untungnya semua itu nggak mungkin saya lakukan karena belinya pake uang dan bukan daun lontar)



View all my reviews

[GR] Halo (Halo #1)

Halo (Halo, #1)Halo by Alexandra Adornetto
My rating: 1 of 5 stars

This book is not for me.

even I love books that featuring angels and demons as much as other. but this one is definitely not for me. it's ordinary, angels who came to earth, searching for some clue about bad things that will and already happen in earth. angels who fall in love with human and so on.

so many things that already told in other series and similliarity between them is HUGE. that's why i said it's ordinary.

=======
saat malaikat ditugaskan turun ke bumi untuk mengawasi hal-hal yang akan terjadi, atau sudah terjadi. tanda-tanda hal yang buruk mulai bermunculan dimana mereka berada dan tugas merekalah untuk mencoba meluruskan hal tersebut. Konsep cerita yang sangat umum apabila berkaitan dengan malaikat dan sudah banyak diceritakan dalam buku.

Tak hanya itu, kisah cinta malaikat yang jatuh hati kepada seorang manusia yang tak kekal pun sudah banyak diceritakan pula. Bukan hal yang baru buat para pecinta cerita malaikat.

Apa yang membedakan kisah beth, ivy dan gabe ini dengan buku lainnya. Saya sendiri kurang tahu. Buat saya buku ini terlalu biasa dan tidak ada yang spesial didalamnya. Kisah pergolakan batin Beth yang secara sadar penuh jatuh hati kepada manusia, jujur, emosi yang ada tidak tersampaikan. yang ada hanyalah kekesalan karena sikap yang suka berubah dan terasa tak berpendirian.

Alih-alih dihiasi dengan kisah perjuangan mereka mempertahankan dan bertahan di bumi. Buku ini malah dihisi dengan banyaknya kisah cinta Beth dan Xavier yang sedikit memuakkan. beberapa karakter juga seolah disuguhkan begitu saya dan terima nggak terima, harus kita terima. Xavier dan Molly bisa dibilang karakter yang andil dalam cerita buku ini misalnya.


View all my reviews

Monday, June 13, 2016

[QR] The Wrath & the Dawn (The Wrath and the Dawn #1)

Quick Review

Greets!!!

Setelah posting bahwa saya tidak minat membaca di Facebook, akhirnya saya mencoba mengambil buku ini dari tumpukan terdekat dan membukanya.

Dengan nuansa dan tulisan di sampulnya yang ke-timurtengah-an sedikit pesimis bahwa saya bisa menikmati buku ini. Tentu saja dengan latar budaya yang sedikit banyak harus diadaptasikan ke dalam otak supaya lebih menguatkan isi dari ceritanya itu sendiri. Tapi, seiring berjalan, semua itu bisa kita lupakan karena dalam ceritanya sendiri aspek latar belakang dan budaya terasa diabaikan, kurang detil dan tidak diceritakan dengan jelas. Kekurangan yang menjadi kelebihan bagi buku ini karena pembaca lebih bisa berkonsentrasi dengan ceritanya sendiri.

Dari segi ceritanya sendiri, memang benar ini sebuah fantasi. Tapi bagi saya, buku ini lebih condong ke roman, pelabelan fantasi hanya karena dalam buku ini mengandung unsur magis yang kadarnya sangat amat sedikit..untuk sementara ini. Perkembangan karakternya sendiri ukup menarik, meski emosi yang terkadang tak kentara terkadang sarat akan jiwa.Untuk perkembangan ceritanya semakin akhir semakin enak untuk dinikmati.

Terjemahannya sendiri buat saya gampang dipahami, dengan lancar. Dengan banyak istilah yang ditulis sesuai dengan bahasa aslinya dan disertakan glossarium pada lembar akhir bagi mereka yang ingin memahami lebih. Typo? tentu saja menghiasi beberapa halaman yang ada, biasanya kehilangan satu huruf atau ketambahan.

Btw, saya yang pada saat ini malas baca bisa menyelesaikannya dalam beberapa jam karena buku ini agak susah untuk dilepas...entah kenapa >.<

I'm out.

Stamp

Saturday, June 4, 2016

UnWholly (UnWind Dystology#2)

IMG_20160604_103244.jpgBerkat Connor, Lev, dan Risa - dan pemberontakan mereka di Kamp Akumulasi Happy Jack - orang tak lagi dapat menutup mata tentang praktik pemisahan raga.

Pemisahan raga memang dapat membebaskan masyarakat dari remaja bermasalah sekaligus menyediakan organ tubuh yang sangat dibutuhkan untuk transplantasi, namun moralitas perbuatan itu dipertanyakan. Sayangnya, pemisahan raga telah menjadi bisnis besar, dan diminati kekuasaan politik serta perusahaan tertentu, yang bukan hanya ingin melanjutkannya, tapi juga memperluas pesertanya: narapidana dan orang miskin.

Cam adalah produk pemisahan raga; dibuat dari penyatuan organ anak-anak Unwind lain. Dia remaja yang secara teknis tak ada. Frankenstein Futuristik, itu sebutannya. Selagi berjuang mencari identitas dan makna dirinya, dia bertanya-tanya apakah seseorang hasil penyatuan ulang dapat memiliki jiwa. Dan ketika tindakan seorang pemburu hadiah sadis tak sengaja mempererat takdir Cam dengan takdir Connor, Risa, dan Lev, dia juga jadi mempertanyakan apa arti kemanusiaan itu sendiri.

UnWholly merupakan buku pendamping Unwind. Menantang kita untuk mempertanyakan di mana sebenarnya kehidupan dimulai dan di mana kehidupan berakhir - serta apa arti hidup sebenarnya.

Paperback:  528 pages
Published: 12 Mei 2016 by Gramedia Pustaka Utama (first published August 28th 2012)
Original Title: UnWholly
ISBN-10: -
ISBN-13: 9786020318073
Language: Bahasa Indonesia
Series: Unwind Dystology #2




Perjuangan mereka terus berlanjut. Dengan menghalangi Kamp-kamp yang ada untuk mengambil anak pungut hingga membajak mobil yang membawa anak-anak persembahan untuk menjalani pemisahan raga. Pihak pemerintahan yang mulai membuka mata dengan keberadaan 'kuburan' yang berisi banyak desertir disana. Dan Warga Proaktif sendiri yang mulai menjalankan siasatnya untuk menunjukkan taringnya dimata dunia.

Setelah bertahun-tahun, akhirnya GPU memutuskan untuk melanjutkan seri ini (fyu~~~). Dan mudah-mudahan untuk dua buku selanjutnya juga. Dengan penerjemah yang sama untuk meminimalisir adanya penggantian istilah/ penyebutan hal-hal yang ada di buku ini supaya tidak menimbulkan kebingungan yang kerap terjadi apabila adanya penggantian penerjemah. Mudah-mudahan..... secepatnya mengingat di negara asalnya sendiri sudah tamat dua tahun yang lalu. :D #berdoa

Entah kenapa untuk penyebutan seri ini sebagai dystology, sepele tetapi membuat saya penasaran, apakah karena Tetralogi dan Quadrilogi terlalu panjang sehingga dibuat dystopia-logy, yang sempat saya pikir tak akan berbatas seperti Orson Scott Card membangun dunia fiksinya .
A dystopia (from the Greek Ī“Ļ…Ļƒ- and Ļ„ĻŒĻ€ĪæĻ‚, alternatively, cacotopia, kakotopia, or simply anti-utopia) is a community or society that is undesirable or frightening.

-logy (Suffix)


  1. Something said, or a way of speaking, a narrative. Examples: haplology, eulogy, trilogy, apology







Buku yang ditulis dengan cara berganti-ganti karakter utama penceritaan, disusun dengan rapi. Banyak karakter (dan beberapa kejadian) yang diceritakan pada setiap bagiannya sebagai daya tarik seri ini karena kita akan berasumsi tentang hubungan apa yang akan dimiliki bagian-bagian tersebut dengan keseluruhan cerita. Yang semakin lama semakin jelas seiring dengan berlanjutnya cerita.

Jujur, pada awalnya saya membaca seri UnWind, saya sempat merinding mengetahui ide ceritanya, Pemisahan Raga. Cover buku pertamanya pun sedikit membuat saya takut, saya yang melihat darah berceceran saja sudah mual. Beruntung pada kenyataannya, kisah penceritaannya tidak sedalam itu dan masih dalam batas toleransi malah bisa dinikmati sambil makan makanan ringan tanpa rasa mual (INI PENTING!!!).

Buat yang mengharapkan banyaknya aksi yang ada di buku ini, dijamin kalian akan kecewa karena hanya sedikit yang terjadi pada buku ini. Tapi jalan ceritanya sendiri lebih menarik dibandingkan hal tersebut, perkembangan masing-masing karakter yang beranjak dewasa, pemikiran dan sikap yang lebih matang membuat mereka lebih hidup.

Masalah pemisahan raga masih menjadi masalah utama seri ini (tentu saja #plakk) akan tetapi pada buku ini perkembangan cerita beralih ke masalah lain, masalah penyerbuan Polisi Juvey yang tinggal menunggu waktu. Di dalam tempat itu sendiri mulai muncul bibit perpecahan yang berasal dari dalam, mulai dari tipu daya sampai ke pengkhianatan turut mewarnai buku ini. Kisah perjuangan dan jalinan persahabatan yang manis, dibumbui dengan kisah percintaan yang tak banyak diumbar masih menjadi senjata utama seri ini selain gaya berceritanya yang enak dinikmati.

Buku ini berisi sedikit banyak cerita yang sama dengan buku pertamanya, UnWind, tentang penjemputan anak pungut, Starkey yang dijemput untuk menjalani pemisahan raga.  Anak pungut adalah anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua yang tidak menginginkan mereka di salah satu rumah. Hukum menyatakan bahwa siapapun yang mendapati bayi yang ditinggal di depan rumahnya, diharuskan untuk merawatnya sampai pada hari penyerahan.

Selain itu ada pula anak persembahan, Miracolina, anak kandung yang biasanya diserahkan untuk menjalani pemisahan raga karena yakin dan percaya bahwa itulah takdir mereka. Miracolina percaya bahwa apa yang dia lakukan itu mulia, mulai dari sedari awal bahwa dia dilahirkan sebagai donor sumsum tulang kakaknya yang menderita leukimia dan percaya bahwa pemisahan raga adalah tugasnya selanjutnya.

Ada pula (mantan) polisi Juvey, Nelson yang berniat untuk membalas dendam kepada Connor karena apa yang dia lakukan padanya.

Risa, Hayden dan Trace yang turut membantu perjuangan Connor bertahan dan mewujudkan penghapusan hal yang berkenaan dengan pemisahan raga, karena mereka yakin bahwa mereka juga mempunyai hak untuk hidup secara utuh sebagaimana layaknya anak kandung.

Sedangkan Lev, berada di tempat lain, hidup bersama kakaknya setelah ditolak oleh kedua orang tuanya karena statusnya sebagai penepuk yang tidak menepuk. Dia dan kakaknya – Marcus, turut membantu apa yang diperjuangkan Connor dengan cara yang berbeda.

Cam adalah salah satu karakter baru yang ada pada buku ini, yang kita ketahui bahwa dia adalah hasil dari penyatuan raga yang diambil dari banyak anak yang dijadikan satu secara utuh oleh Roberta, seorang Warga Proaktif.

Original Cover

13545075.jpg

Cover Lainnya

[gallery ids="1234,1235,1237,1236,1233,1238" type="rectangular"]

 

Wednesday, May 25, 2016

"Oleh-oleh" dari BBW 2016

 

loading-wolf3Hahahaha.... pertama kali nih.. bikin post yang ga ada hubungannya dengan review buku...

Meskipun masih ada hubungannya dengan buku juga sih. Kali ini mau ngomongin hasil "rampokan" dari Big Bad Wolf atau yang lebih dikenal dengan singkatannya BBW yang diadakan akhir bulan lalu sampai dengan awal bulan ini.

Kenapa baru bikin post-nya sekarang..hehehe... semua karena beberapa buku baru datang ke alamat saya. :D

Meskipun saya sendiri nggak berhasil datang kesana. beruntunglah ada ibu-ibu peri tak bersayap tak bertongkat sihir yang naik uber dan KRL menempuh lautan massa, yang bersedia saya repotkan. Makasih banyak buat Ren Puspita dan Cypress Ruby.

[caption id="attachment_920" align="alignleft" width="300"]IMG_20160525_085115 Private: India, Invisible dan Private: Down Under[/caption]

Titipan yang didapat Ren waktu itu, beruntung berdasar wishlist yang sudah aku buat sebelumnya, aku pikirkan matang-matang setengah gosong, sambil bertapa dan memilah mana yang saya butuhkan lebih dulu dan yang bisa dibeli lain kali. Tapi, alhasil mendapatkan judul buku yang sedikit, wishlist saya pun ternyata sama panjangnya dengan yang sebelumnya alias tidak ada gunanya. hahaha...

James Patterson adalah penulis yang berada dalam wishlist tetap saya. Makanya, saat dikabari bahwa ada dua buku (Private: India dan Private: Down Under) yang dipamerkan (dan dijual tentu saja) makanya tanpa pikir panjang (meski pada kenyataannya impulse neuron menempuh perjalanan panjang) untuk mengatakan iya. Invisible juga kebetulan muncul di foto yang dikirimkan dan langsung semangat untuk berkata iya. :))

[caption id="attachment_927" align="alignright" width="300"]IMG_20160525_090318 The Watersong #3: Tidal dan #4: Elegy[/caption]

Buku selanjutnya adalah Tidal dan Elegy karya Amanda Hocking. Buku yang berkisah tentang kehidupan Syren (bukan Si Ren). Memasukkan buku ini ke wishlist adalah sebuah keterpaksaan. Saya mendapatkan buku #1 Wake dan #2 Lullaby dengan harga yang lebih murah. Hasil berbelanja di Peri+ di bagian bargain book #tetep. karena buku satu dan dua dari seri The Watersong ini sudah ditangan, maka saya putuskan untuk mencoba peruntungan dengan memasukkan buku lanjutannya di wishlist saya. Tanpa harapan sama sekali, dan ketika ada kabar bahwa buku tersebut ada. Cerahlah hari saya, tidak perlu lagi berburu lagi dari website ke website (karena mustahil mendapatkan buku ini di toko buku yang ada di kotaku tertjintah).

Oke... lanjut!! >.<

Buku selanjutnya..

[gallery ids="931,915,913,918" columns="4" size="large"]

Sand karya Hugh Howey. Buku, seperti halnya Wool yang merupakan omnibus dan sudah diterbitkan di Indonesia, entah untuk buku akan diterbitkan atau tidak. Saya sendiri tidak menyadari adanya buku ini ada di tumpukan foto yang diambil dan dikirim Cypress Ruby saat berada di TKP, saat itulah (drum roll please....) Mas Puji datang bercelana boxer dengan cilok dan kopinya, menyelamatkan keadaan dan saya pun memutuskan untuk turut membelinya juga. :D

Unsouled karya Neil Shusterman. Buku ketiga dari seri Unwind. Buku yang nggak terbersit untuk dibeli. Niat itu muncul ketika foto itu muncul. Kebetulan Unwind sendiri sudah dibaca sejak beberapa tahun yang lalu..tahun yang lalu... tahun yang lalu... (echo) dan Unwholly yang baru terbit beberapa minggu yang lalu...minggu yang lalu...minggu yang lalu...(masih dengan efek echo) yang bahkan belum tersentuh....dan entah Undivided kapan munculnya...(atau semua itu imaji semata).

The Creeps (Samuel Johnson vs. The Devils #3). Ini Racun!! Racun yang ditebarkan para penghuni group...hahahaha...sebenarnya buku satupun masih dalam kondisi segel. Seperti baru, buku kedua dapat murah di bargain booknya Peri+ meskipun versi yang berbeda (dan judul yang berbeda, Hell's Bell) dan karena itulah saya meminta tolong untuk memasukkan buku ini ke keranjang belanjaan.

Starring Tracy Beaker dan Biscuit Barrel, Jacqualine Wilson. Tentu saja, seperti buku lainnya untuk menambah koleksi Jacqualine Wilson saya yang entah sudah dapat berapa banyak (atau dobel) karena dia salah satu penulis yang bukunya saya kumpulkan tapi belum sempat untuk mendata. :D Waktu itu ada boxsetnya juga yang berisi sekitar 10 judul. Tapi karena beberapa judul sudah diterjemahkan dan sudah punya, makanya saya beli yang lepasan saja. (Alasan sempurna untuk berbohong dan berkata kalau duit sudah mepet)

IMG_20160525_084010

Fantasy & Science Fiction, Volume Two.

Pertama kali lihat, di timeline Mbak Truly yang LPM hasil jarahannya ketika datang kesana.

Sambil menyikat dan mengepel lantai yang banjir dengan iler berkepanjangan, saya pun memasukkan buku ini ke daftar titipan meski hanya satu nama yang saya kenal disana, Stephen King, mudah-mudahan buku ini tidak meracuni saya untuk membaca karya penulis lainnya yang ada disini. Sayangnya, hanya ada buku keduanya. Semua sesuai dengan takdir Tuhan. Mungkin saya belum berjodoh dengan buku pertamanya.

[gallery ids="932,926,919,916,914" type="slideshow"]

The First Dragon karya James A. Owen. Buku yang katanya tinggal satu ini masuk ke dalam wishlist abadi saya. Buku pertamanya sendiri sudah terbit di Indonesia. Here, There Be Dragons  diterbitkan oleh Penerbit Matahati sebelum mereka meninggalkan dunia penerbitan Indonesia. The First Dragon merupakan buku ke-tujuh dalam seri The Chronicles of Imaginarium Geographica, dan merupakan buku pamungkas seri tersebut. Selain buku ini, kebetulan saya juga mempunyai buku #3 The Indigo King dan The Shadow Dragons #4 yang saya beli di Yusuf Agency, Yogyakarta seharga Rp30.000,- per buku. Used, but worthed it. Dan dengan semua itu pencarian saya masih berlanjut untuk mendapatkan 3 buku lainnya #2 The Search for the Red Dragon, #5 The Dragon's Apprentice, dan #6 The Dragons of Winter. Oleh karena itu, doakan saya yaaa..... (a la pemain Benten Takeshi)

Michael Vey karya Richard Paul Evans. Satu buku yang berisi dua volume sekaligus, The Prisoner of Cell 25 (#1) dan Rise of the Elgen (#2). Siapa yang bisa menolak dua buku dengan satu harga, atau setidaknya bukan saya :) Berkisah tentang seorang anak pengidap Tourette's syndrome yang ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa.

The Bane Chronicles adalah buku yang masuk mendadak di wishlist saya. Kebetulan saya mempunyai TMI dan TID, dan sebagai salah satu penggemar seri ini. Kurang lengkap rasanya kalau tidak membeli buku ini, buku yang masuk ke Indonesia dengan harga yang lebih murah dari buku terjemahan sekarang ini. Sebelumnya tidak terpikir untuk membeli buku ini, dan bahkan tidak tahu. Tapi sifat kepo-akut saya yang suka menjelajahi tautan referensi yang ada di sebuah halaman, dari website BBW akhirnya membawa saya ke website sponsor event ini yang notabene adalah toko buku online yang berada di Malaysia sana dan menemukan buku ini terpampang disana bersama-sama dengan First Dragon dan Michael Vey di atas.

The Song of the Quarkbeast karya Jasper Fforde. Buku pertamanya sendiri sudah diterbitkan di Indonesia dan kebetulan saya suka sama ceritanya yang ringan dan beberapa nilai moral yang ditanamkan. Tetapi saat saya bertanya kapan buku selanjutnya dan mendapat jawaban "diamati" saat itulah saya berjanji pada diri saya sendiri akan mencari buku selanjutnya. XD

The Gift karya James Patterson. Alasannya sederhana, di rak buku saya yang ada massproduct dan yang ini kebetulan hardcopy. sesederhana itu alasan saya untuk membeli buku dari penulis favorit saya.

[gallery ids="917,923" type="circle" columns="2" link="file"]

The Well of Ascension (Mistborn #2), The Hero of Ages (Mistborn #3) dan A Memory of Light (The Wheel of Time #14) merupakan tiga karya yang ditulis oleh Brandon Sanderson. Istri mendiang penulis The Wheel of Time, Harriet McDougal sekaligus editornya dan Tom Doherty, menunjuk Brandon Sanderson (Penulis Elantris dan Mistborn) melalui TOR untuk melanjutkan kisah yang ditulis oleh Robert Jordan yang meninggal pada saat penulisan buku kedua belas seri ini sekaligus buku terakhir. Akan Tetapi, dengan material yang ditinggalkan oleh Robert Jordan akhirnya mereka memutuskan untuk membagi tiga cerita tersebut dan kesemuanya akan diberi judul yang sama, A Memory of Light. Kemudian rencana itupun dibatalkan dan mereka memutuskan untuk memberikan judul yang berbeda untuk tiga buku terakhirnya, yaitu: The Gathering Storm (terbit 27 Oktober 2009), Towers of Midnight (terbit 2 November 2010), and A Memory of Light (terbit 8 Januari 2013).

Mistborn sendiri sebenarnya trilogi dari trilogi. Trilogi Pertama yaitu The Final Empire, The Well of Ascension dan The Ages of Hero. Seri Wax and Wayne sendiri merupakan kisah transisi dari trilogi pertama ke trilogi kedua. Berikut kutipan dari wikipedia (dalam bahasa inggris)
The original trilogy is the first in what Sanderson calls a "trilogy of trilogies." The original second trilogy was to be set in an urban setting, featuring modern technology, and the third trilogy was to be a science fiction series, set in the far future. Mistborn: The Alloy of Law was set to be a transitional book between the original trilogy and the second trilogy. However, it turned into a fourth series, this time of four books. Sanderson's announcement on August 1, 2012 to write a sequel to Mistborn: The Alloy of Law, titled Mistborn: Shadows of Self, published October 6, 2015, meant Mistborn: The Alloy of Law would not stay a stand-alone novel. However, the series will not take the place of the originally-planned second Mistborn trilogy, but will instead become a spinoff series, with a third book confirmed as Mistborn: The Bands of Mourning and the fourth book under the working title of Mistborn: The Lost Metal.

There is not a scheduled release date for the contemporary trilogy or the science fiction trilogy.

 (Aoyama Gosho dapat saingan sepertinya)

Lanjut lagiiiiii............................

[gallery ids="912,925,911,910" type="columns"]

Henderson's Boys: One Shot Kill, Secret Army dan Grey Wolves karya Robert Muchamore. Buku yang saya titip dadakan ketika melihat judul tersebut dari foto yang dikirim. Buku yang akan saya gunakan untuk menemani The Escape dari seri yang sama, yang lagi-lagi saya beli di bargain book-nya Peri+. Lumayan bisa mencoret tiga dari enam judul yang kurang.

Artemis Fowl and the Last Guardian karya Eoin Colfer. No Reason. Karena penerbit yang menerbitkan seri ini di Indonesia tidak jelas apakah akan meneruskan seri ini atau tidak. Semua masih dalam terawangan, sepertinya.

Earthfall karya Mark Walden. Ini Racun!!! Salahkan Cypress Ruby yang dengan sengaja memamerkan buku ini kepada saya dan dengan sengaja membawanya dengan caption "bawa sajalah siapa tahu berubah pikiran" kata suara hatinya. Buku Mark Walden sendiri yang sudah terbit di Indonesia adalah H.I.V.E. #1-#3. Buku yang berhasil membuat saya terkatung-katung. Baik dari segi cerita dan dari segi harapan saya sebagai pembaca yang terpesona dengan ceritanya. Karena alasan itulah dan informasi dari Goodreads bahwa buku ini buku pertama. Akhirnya racun itu berhasil menginduksi otak saya untuk menyerah kalah. Untuk buku keduanya sendiri sudah terbit dengan judul Retribution pada tahun 2014 dan buku ketiganya yang diharapkan akan terbit pada tahun 2017

Speaker of the Dead, Children of the Mind dan Xenocide karya Orson Scott Card. Jujur, pada waktu IBF kemarin saya melihat Rifda Jilan Sy dan Gita Savitri Putri 'memberitahukan' bahwa mereka membeli buku ini, saya agak sedikit iri XD (Tidak pernah bilang sama mereka..dan disini saya tulis). Buku yang merupakan kelanjutan dari Ender's Game yang sudah dibuat filmnya dan membuat saya penasaran akan kelanjutan kisah perjalanan Ender, meskipun hasil 'penggalian' ilegal membuat saya memiliki ebook dan audiobook-nya, dan sampai sekarang belum saya jamah karena saya tetap lebih memilih untuk memegang buku secara langsung.

Alex Rider series karya Anthony Horowitz yang terdiri dari:

Seri ini sudah lama menjadi incaran. Kebetulan di BookBos sebuah penjual buku bekas yang menitipkan bukunya di beberapa tempat. Saya sering menjumpai seri ini, saya pegang dan saya kumpulkan, meskipun pada akhirnya saya kembalikan karena yang ada dalam benak saya bahwa akan sulit untuk melengkapi seri ini. Tampak seperti hal yang mustahil kan? Saya mengembalikan buku yang sudah dipegang, dikumpulkan (waktu itu hanya ada 4 judul) dan kemudian dikembalikan lagi ketempatnya XD. Tapi, beruntunglah saya, tak disangka saya menemukan buku ini di BBW. Kala itu, kurang buku #1, #4 dan #9. Sedikit sedih karena nasibnya bakalan sama saja, yaitu mencari sisanya di toko buku. Apalagi kali pertama saya dikirimi foto titipan tampak punggung bukunya yang membentuk judul seri ini, kalau saya salah beli versi buku ini. sudah pasti hal itu hanyalah mimpi. Tak disangka Si Adik mengajaknya balik ke BBW untuk beli buku (yang ternyata malah tidak ada) dan di waktu itulah Peri tak bersayap tak bertongkat tapi berkartu kredit itu menemukan tiga buku lainnya......dan buku lainnya juga. Saya terharu... Terima kasih, Mamak.




Oke...saya sudah lama jadi tukang titip ke orang lain, dan beruntung pada masih baik sama saya :D

Menitippun buat saya pribadi ada etikanya buat saya. (Mereka = yang dititipi)

  1. Jangan pernah memaksa mereka mencarikan buku yang kamu mau dan HARUS dapat hanya karena kamu melihat buku itu di foto yang tersebar ditempat lain.

  2. Jangan sampai membuat mereka balik, ketempat yang terlewat dan mengambilkan buku tersebut. Kalo eventnya skala kecil sih ga papa (kayaknya), jangan menyuruh tapi bertanyalah apakah mereka yang di TKP akan balik ke tempat tadi. kalo mereka 'iya', baru boleh bilang apa maksudmu. Tapi kalo mereka bilang 'tidak', itu nasib kita kawan. Jangan dipaksa mereka harus balik, emangnya kita ini siapa... kita itu cuman orang yang kebetulan tidak bisa datang/ malas bagi sebagian orang yang meminta tolong pada orang lain. Kalau ditolak ya, terima aja.

  3. SEGERA BAYAR. Meskipun ga ditagih sekalipun, kalo perlu bayar dimuka (jangan di muka beneran tapi). Mereka bukan tempat pinjam meminjam uang, meskipun bilang nanti pun, kita sendiri harus tanya bisa dibayar kapan tapi jangan sampai mengganggu mereka dengan tanyain totalan tiap jam tiap waktu. Kalian bukan debt collector.

  4. Setelah bayarpun, mereka jangan dicecar dengen pertanyaan "Kapan kirim?", " Udah dibungkus belum?" dll. apalagi kalo intensitasnya ngalahin orang bernafas. Kalian kira mereka itu ga punya urusan apa. Cuman ngurusin titipan kita. Mereka juga butuh refreshing, butuh kerja, menghibur diri, makan dll. Jangan kebangetan deh...udah syukur mereka mau dititipin. Untuk ini saya butuh kaca kayaknya. Dari yang dijanjiin akhir bulan ini atau awal bulan depan akhirnya dikirim Jumat (20062016) kemaren hanya karena ga sabar nyusun Alex Rdernya.. dari yang mau dikirim separo akhirnya dikirim semua sekaligus...wahahaha....

  5. Kalo nitip kira-kira, ya. Jangan kayak saya. Nitipnya sampai kurang ajar...syukur deh titipan saya 11-12 dengan yang saya titipi , jadi nggak terlalu malu. Coba kalo ternyata mereka kesana cuman buat nyariin titipan kita. Eh, tapi ada ding...hahaha..aku sendiri sudah seneng hanya dengan beli buku meski bukan buat sendiri. XD

  6. Fokus, tentukan tujuan. lagi-lagi... jangan seperti saya--- yang tergoda dengan setiap ada foto muncul. Sampai-sampai malu sendiri mau bilang 'nitip itu', 'yang itu masukin keranjang ya', ' mau dong satu', dll.


Gitu dulu... abaikan typo, besok dicek ulag dan dipercantik sana sini meski ga ada yang baca.

Monday, May 16, 2016

The Fault in our Stars

image


Paperback: 422 pages
Published: December 2012 oleh Qanita (first published January 1st 2012)
Original title: The Fault in Our Stars
ISBN13: 9786029225587
Bahasa: Indonesia
URL:  kaifa.mizan.com
Karakter:  Hazel Grace Lancaster, Augustus Waters
Setting: Indianapolis, Indiana (United States)
Literary awards
Odyssey Award (2013), ALA Teens' Top Ten Nominee (2012), Indies Choice Book Award for Young Adult (2013), Deutscher Jugendliteraturpreis Nominee for Preis der Jugendjury (2013), Dioraphte Jongerenliteratuurprijs (2013) The Inky Awards for Silver Inky (2012), Abraham Lincoln Award Nominee (2014), Goodreads Choice for Best Young Adult Fiction (2012)




Pertama....*ambil nafas*...

Saya akui saya bukan penggemar genre ini. Akan tetapi harus saya akui kalau buku ini benar-benar bagus. Saya tidak menyangka akan jatuh cinta pada cerita yang ada dibuku ini apalagi dengan genre yang diluar minat saya dan bahkan saya hindari.... pada awalnya.

Kenapa? alasannya sepele.... karena saya mendapati tulisan 'Romance' di sampul buku ini... yang jujur saja buat saya (maaf nih) label tersebut salah karena buku ini lebih menitik beratkan kepada drama kehidupan dibandingkan dengan kisah cinta (yah...meski kisah cinta yang ada juga banyak akan tetapi itu juga merupakan bagian dari drama yang ada). Dan karena alasan itu tadi saya hanya melihat buku ini saat ada di rak toko buku yang saya kunjungi meskipun hati sebenarnya ingin membeli. Dan beruntunglah saya diberi buku ini oleh penerbit sebagai tanda terima kasih atas partisipasi dalam mengikuti ajang lain. Salah! Sebenarnya sayalah yang harus banyak berterima kasih kepada penerbit karena memberikan kesempatan pada saya dan gratis untuk membaca buku ini.

(maaf curcolnya kepanjangan)




Bercerita tentang sebuah kisah kehidupan remaja berusia 16 tahun yang bernama Hazel Grace pengidap kanker. Sebuah kisah sederhana dengan mengeksploitasi kisah seorang pengidap kanker? Iya. Akan tetapi kisah yang terjadi tidak sesederhana itu.

Buku ini berkisah tentang perjuangan hidup seorang remaja yang tegar dan gigih dalam menjalankan kehidupannya. Menganggap bahwa dia hanyalah remaja biasa yang tidak mempunyai 'keistimewaan' dan hanya ingin menjalankan hidupnya dengan normal, disaat orang lain khawatir dan cemas akan keadaannya. Semangat hidupnya yang besar tidak sebesar kekuatan tubuhnya untuk hidup. Yang tidak suka mendatangi Support Group (yang diterjemahkan sebagai 'Kelompok Pendukung" yang buat saya pribadi lebih ke "Kelompok Penyemangat" berdasar atas tujuan kelompok tersebut) dimana orang-orang yang mengalami kasus/ kisah serupa berkumpul, bercerita dan saling menyemangati satu sama lain untuk menghadapi permasalahan tersebut.

Waktu pertama kali saya membaca beberapa halaman awal buku ini. Pikiran saya langsung teringat dengan kisah perjuangan anak kecil yang mengalami kesulitan dalam bernafas dan harus membawa tabung oksigen kemanapun dia pergi (meskipun dalam kasus ini dia dibantu oleh anjingnya, Mr. Gibbs).


Kembali ke buku.

Kisah perjuangan Hazel tidak hanya berhenti disitu saja. Berlanjut keinginannya untuk mengetahui kelanjutan cerita buku kesukaannya, perjalanan yang harus dilaluinya dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya menjadi kisah yang menarik untuk selalu diikuti. Belum lagi kisah cintanya yang tumbuh seiring dengan berjalannya waktu menjadi 'bumbu' tersendiri dalam buku ini.

Kadang saya meragukan buku ini...apakah buku ini benar-benar buku fiksi karena hal-hal yang terjadi didalamnya terasa begitu nyata setidaknya untuk saya. Memainkan emosi saya naik turun, di satu bagian buku ini bisa membuat saya tersenyum dan tertawa karena dialog yang ada didalamnya dan ada saat dimana emosi saya dibawa turun sampai ke dasar (harus saya akui kalau saya hampir menangis sedih) di bagian lain. Terasa tidak asing? Yah, karena itulah hidup, yang saya yakin kita juga mengalami hal yang serupa karena itulah terasa nyata.

Dan dari buku ini pula mengingatkan saya kembali bahwa 'Jangan hanya melihat keatas, akan tetapi lihatlah kebawah'.

Cukup untuk kisah yang ada dibuku ini karena ketakutan saya untuk mengurangi kenikmatan kalian yang belum membaca buku ini.

Untuk desain sampul sendiri, saya agak keberatan dengan adanya gambar anak kecil, rumah dan segala hal yang ada dibagian bawah (yang berwarna kuning) pada sampul buku terjemahan ini. Karena terkesan (maaf) kekanakan meski saya akui sampul ini eye-catching sekali dengan komposisi warnanya dan mencerminkan sifat tokoh utamanya. :D

Grafis yang ada di halaman dalam buku ini....ehm... buat saya agak menganggu konsentrasi (saya bilang 'agak' lho) bukan karena gambarnya (meski agak ilfil juga liat banyak gambar hati disana...kenapa nggak bintang-bintang aja) tapi ketika gambarnya menumpuk sama sedikit hurufnya, jadi harus memposisikan secara pas tulisan sama mata.

Buku ini juga mengalir begitu saja, Alur ceritanya yang asyik untuk diikuti, penokohan dan penggambaran karakter yang kuat dan jelas.

Kutipan favoritku di buku ini:
"Akan tiba saatnya, ketika semua mati. Kita semua. Akan tiba saatnya ketika tidak ada lagi umat manusia yang tersisa untuk mengingat bahwa manusia pernah ada atau spesies kita pernah melakukan sesuatu. Tidak akan ada siapa pun yang tersisa untuk mengingat Aristoteles atau Cleopatra, apalagi mengingatmu. Semua yang kita lakukan, dirikan, tuliskan, pikirkan, dan temukan akan terlupakan," hal. 22

Entah kenapa... waktu baca tulisan itu (dan mengetiknya di blog ini) saya merasa bahwa meski tulisan itu terkesan bahwa semua usaha saya akan sia-sia tapi bagi saya pribadi kalimat tersebut sebagai cambukan bahwa "aku harus melakukan semaksimal tenaga dan kemampuanku supaya aku tidak mudah untuk dilupakan (in a good way of course)".

Sebuah akhir yang indah untuk kisah yang indah.




Trivia:

Enchilada
adalah makanan utama di kawasan Meksiko. Makanan ini terdiri dari tortilla yang diisi lalu digulung, setelah itu diberi saus cabai. Enchilada dapat diisi apa saja, termasuk daging, keju, kentang, sayuran, makanan laut atau campuran. Source: Wikipedia

 



 

Tortilla
adalah sejenis flatbread yang biasanya terbuat dari gandum. Flatbread adalah roti sederhana yang terbuat dari tepung, air dan garam yang kemudian dipipihkan. Source: Wikipedia

 

 



 

V for Vendetta
adalah film tahun 2006 yang ceritanya diadaptasi dari sebuah novel grafis berjudul V for Vendetta karya Alan Moore dan David Lloyd, yang menceritakan tentang seseorang yang berinisial "V" yang berjuang untuk menghacurkan rezim pemerintahan otoriter di Inggris. Source: Wikipedia

 

 

BiPAP (Bilevel Positive Airway Pressure)
digunakan pada saat membutuhkan tenaga pendukung untuk memompa udara pada saluran pernafasan saat menghirup udara. Indikasinya adalah kita sulit untuk menghirup udara saat bernafas. Termasuk pneumonia, chronic obstructive pulmonary disease, asthma dan status asthmaticus.

Source: Wikipedia

Other :
The Fault in our Stars Movie @ IMDB
The Fault in our Stars @ Wikipedia
The Fault in ur Stars, The Metatext  (Serba-serbi yang ada dibuku ini. :D )
John Green (Author)

Original Cover:


Other Editions :

Tuesday, June 23, 2015

City of Fallen Angels, City of Lost Souls, City of Heavenly Fire (The Mortal Instruments #4, #5, #6)

11356524_644454178988798_1221806819_n

Hahahaha.....hahahaha...... #gubrak

Maaf, otak saya sedikit berasap. #plakk

Kali ini saya bermaksud untuk corat-coret untuk tiga buku sekaligus. City of Fallen Angels, City of Lost Souls dan City of Heavenly Fire, tiga buku terakhir dari seri The Mortal Instruments.

Jujur, saya bingung. Apakah saya akan menulis cerita singkat buku berkaitan atau menulis pendapat saya langsung. Dan.... saya akan menuliskan langsung saja karena tidak ingin mengurangi keasyikan bagi yang belum membaca seri ini.

City of Fallen Angels
Seru! Melanjutkan cerita yang ditinggalkan setelah pertempuran pertama yang diakhiri dengan kematian Sebastian. Masih seputar kehidupan dan kisah percintaan seputar Clary dan Jace. Pertarungan dengan Lilith yang menuntut hak sebagai akibat akan apa yang dilakukan Clary terhadap Jace pada buku sebelumnya.

City of Lost Souls
Buku ini merupakan buku yang paling membosankan untuk seri ini. Lebih dari setengah bukunya sendiri pun membuat saya bosan dan hampir membuat saya melemparkan buku ini (hanya pura-pura). Untung saja, bagian akhirnya ditutup dengan cerita yang mendebarkan dan seperti menjadi gerbang pembuka buku keenamnya. Sayang meski begitu tidak cukup untuk membuat saya senang karena hampir seperti membuat saya sia-sia menghabiskan waktu untuk membaca beberapa bagian buku ini.

City of Heavenly Fire
Setelah menahan diri cukup lama (melupakan lebih tepatnya) sejak penerbitan buku ini di Indonesia. Akhirnya saya berhasil membaca buku ini. Ukuran font yang tidak bisa dibilang besar yang dipakai pada buku ini, ternyata tidak mengurangi petualangan saya karena ceritanya yang sangat menarik sedari awal. Atmosfer buku yang sangat kental dicampur aduk dengan permainan emosi yang Cassie torehkan. Begitu banyak aksi dan informasi baru mengenai dunia pemburu bayangan dalam buku ini. Koneksi yang dibangun dengan The Infernal Devices yang merupakan bumbu tersendiri dan salah satu daya pikat lain seri ini (but I want more). Bahkan sampai halaman terakhir rasa bersemangat dan efek dari buku ini masih terasa, meskipun ada beberapa hal yang dibiarkan tetap menjadi misteri. Bertahan selama berjam-jam untuk menyelesaikan buku ini terbayar sudah melepas kekecewaan saya terhadap buku sebelumnya. Dan dengan ending yang seperti itu, you got me! #halah #sokinggris

Seperti yang sudah-sudah pendapat saya tentang tulisan Cassandra Clare tidak berubah. Well-written, well-executed, ringan untuk dibaca dan ada hal menarik di setiap kata-katanya yang menyihir dan membuat saya betah untuk menyelesaikannya.

Okay, that’s all. I’m definitely lost in words to describe it.

Monday, April 27, 2015

Half Bad

IMG_20150412_125430by Sally Green

Hidup di dunia dimana penyihir dan manusia (yang disebut fain) hidup berdampingan, Nathan, seorang Bastar di antara golongannya. Bastar adalah penyihir yang lahir dari hasil hubungan penyihir putih dan penyihir hitam atau yang dewan tulis sebagai 0,5 H dan 0,5 P. Tinggal bersama keluarga dari ibunya yang sudah meninggal dan berada dalam situasi yang membingungkan karena dia adalah anak dari Marcus seorang penyihir hitam, yang membunuh ayah dari saudaranya dan kemudian berhubungan dengan Cora Bryn, ibu mereka yang merupakan seorang penyihir putih. Tinggal bersamanya adalah Arran dan Deborah yang menyayanginya dan peduli padanya serta Jessica yang begitu membencinya karena hal yang dilakukan Marcus yaitu membunuh ayah kandungnya, tidak lupa nenek mereka yang selalu menjadi penengah antara mereka berdua.

Nathan yang berdarah campuran merasa cemas karena merasa dikekang oleh dewan yang dibentuk untuk mengawasi semua penyihir dan berharap untuk diselamatkan oleh ayahnya. Dia juga cemas akan siapa yang akan memberinya anugerah pada umurnya 17 tahun nanti karena setiap penyihir baik putih maupun hitam wajib menerima 3 anugerah dari penyihir lainnya karena apabila tidak maka bisa dipastikan dia akan mati.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian (buat saya) yaitu masa sebelum karakter utama sebelum dan sesudah ditangkap oleh dewan. Meskipun keduanya bisa dipastikan saling berkaitan. Untuk bagian pertama buku ini cenderung membosankan dan tidak semenarik bagian keduanya yang lebih mengedepankan aksi, petualangan dan perjuangan Nathan untuk mencari jalan keluar untuk hidupnya yang terombang-ambing.

Bagian pertama buku ini berkisah tentang hidupnya yang bisa dibilang tanpa hambatan selain penindasan dari kakaknya, Jessica dan teman sekolahnya. Kehidupan cintanya (iya cintanya...) yang mendapat tentangan dari keluarga teman perempuannya karena kenyataannya adalah dia berasal dari keluarga penyihir putih murni dan terpandang sedangkan Nathan merupakan anak dari penyihir hitam yang paling dicari. Bahkan beberapa keluarga gadis yang disukainya menduduki dewan dan menentukan peraturan-peraturan bagi semua penyihir.

Perburuan terhadap penyihir hitam pun membuatnya khawatir karena ketidaktahuannya apakah dia akan menjadi penyihir putih atau penyihir hitam karena percampuran darah ayah dan ibunya. Hal yang akan dia ketahui pada umur 17 tahun nanti. Jessica sendiri menjadi pemburu setelah ulang tahunnya yang ke-17 dan menerima anugerah dari neneknya, salah satu kenyataan lain yang harus dia hadapi karena ambisi Jessica untuk menyiksa Nathan. Selain itu dia harus menghadapi dewan yang mempunyai rencana terhadapnya.

Bagian kedua adalah bagian ketika perjalanannya untuk mencari 3 anugerah yang dibutuhkannya sekaligus melarikan dari para pemburu dewan yang mencarinya untuk suatu tujuan. Petunjuk yang dia dapatkan perlahan mulai mengantarnya ayah yang selama ini dicarinya.




Buat saya, membutuhkan perjuangan untuk membaca buku ini, apalagi dengan kenyataan bahwa bagian awal yang dituliskan menjadi semacam penceritaan awal atau prolog bagi cerita berikutnya, bisa dibaca tapi buat saya terasa tidak penting. Karena berkaitan dengan kehidupan dan keseharian sang karakter utama pada masa remajanya. Penulis juga belum terlalu sukses untuk mengupas dan memperkuat masing-masing karakternya, meski buku ini bisa dibilang cukup tebal. Dengan banyaknya karakter yang hanya menjadi sekedar “hiasan” dengan menghubungkan satu karakter dengan yang lain dan saya harapkan akan diperjelas peranannya karena bila tidak maka penulis hanya menambahkan banyak nama dalam daftar yang kurang berarti dalam buku ini. Karakter minor yang bisa ‘dibuang’ apabila difilmkan.

Narasi yang berubah-ubah diawal juga salah satu kelemahan lain karena terasa seperti diceburkan ke satu dunia asing dan dalam hitungan detik panorama berubah beserta dengan objek yang ada didalamnya. Belum lagi kesan yang saya dapatkan buku ini seperti Harry Potter dengan keadaannya, Vampire Academy dengan kisah hubungan anak dan ayahnya serta Shatter Me dengan kegalauannya.

Dari segi cerita, saya menemukan beberapa pertanyaan/ kejanggalan/ hal yang menimbulkan rasa penasaran/ emosi, dan lain-lain yaitu:

  1. Sikap Arran dan Deborah kepada Nathan. Yang bisa dibilang bertentangan dengan Jessica yang buat saya lebih masuk diakal.

  2. Kesabaran Nathan yang terlalu tinggi, meski dengan perlakuan dewan dan orang lain di sekitarnya. Dia ingin berontak tapi pasrah sama keadaan. Bukan orang cengeng tapi bikin saya jambakin rambut sendiri saking jengkelnya.

  3. Di buku ini dituliskan tentang Marcus yang bisa dibunuh dengan cara *sensor*. Kenapa begitu? Garis kekeluarganya tidak mengharuskan dengan cara seperti itu. Ayahnya, Kakek, Buyut sampai ke atas, mereka meninggal dengan bermacam cara. Apakah karena perkawinan campuran? Tapi bukankah pada umur 17, Nathan dipaksa oleh takdir #plakk untuk menjadi hitam atau putih.

  4. Sally Green membagi penyihir menjadi beberapa jenis. Tapi pada dasarnya adalah penyihir hitam dan putih. Garis pembatasnya juga tidak terlalu jelas antara kedua jenis itu, mengingat tingkah polah keluarga Annalise terhadap Nathan.


Tapi, apapun itu saya sendiri menunggu kelanjutannya supaya tidak digantung seperti ini.

Trivia:

  1. Pada 3 Maret 2014 buku ini mendapatkan pengakuan dari Guinness World Record sebagai 'Most Translated Book by a Debut Author, Pre-publication', diterbitkan dan dijual dalam 45 bahasa sebelum dipublikasikan.

  2. Mendapatkan 2 rekor tambahan “the most translated book” dan “the most translated children's book” oleh penulis debutan.

  3. Selain dibandingkan dengan Hunger Games, Harry Potter dan Twilight, buku ini juga dibandingkan dengan 1984-nya George Orwell

  4. Film adaptasinya akan digarap oleh Fox 2000.

  5. Didaftarkan sebagai salah satu penerima Branford Boase Award 2015 dan Waterstones Children's Book Prize 2015 untuk penulis dan editornya.


(Sumber: Wikipedia)

Paper Towns

IMG_20150329_104244by John Green

Margo Roth Spiegelman

Gadis yang menarik bagi orang yang mengenalnya, populer di kalangan sekolah dan menjadi idola bagi sebagian temannya. Termasuk Quentin Jacobson (atau yang dipanggil Q oleh kedua teman dekatnya).

Quentin dan Margo adalah teman di masa kecil, selain rumah mereka yang berdampingan juga karena mereka sebaya dan kamar tidur dengan jendela yang saling berhadapan. Akan tetapi hubungan pertemanan mereka merengang sejak mereka menemukan sesosok mayat saat mereka bermain waktu masih kecil. Margo dengan ketertarikannya terhadap mayat tersebut dan Quentin yang merasa ketakutan pada saat itu, sampai pada akhirnya Quentin diberitahu orang tuanya untuk membatasi hubungannya dengan Margo kecil karena ‘keunikan’nya.

Setelah bertahun-tahun berlalu, Q masih suka mencuri pandang untuk melihat Margo karena memang dia menyukai gadis itu meski bertepuk sebelah tangan. Kehidupan mereka sampai dengan SMA mereka hanya sebatas bertegur sapa dan berbicara seadanya semenjak kejadian di masa kecil mereka.

Malam itu, tiba-tiba Margo dengan kegilaannya meminta bantuannya untuk melaksanakan misi-misinya. Dengan melompati jendela kamarnya dan mengagetkannya. Mereka pun berkendara untuk melaksanakan entah apa yang ada di otak Margo, meskipun senang tapi sekarang dia menyadari bahwa dia tidak begitu mengenal gadis yang diam-diam dikaguminya itu, dan dia pun menyadari semakin dia tidak mengenal gadis itu semakin dia ingin mengetahui apa yang ada diotaknya.

Apalagi saat dia pergi entah kemana dan hanya meninggalkan petunjuk, semakin besar keinginannya untuk mencari keberadaannya dan menemukannya.




Another John Green’s books..

Setelah terlena dengan kisah The Fault in Our Stars (abaikan filmnya) yang membuat saya...ehm...mata saya berkeringat, dan kekecewaan akan an Abundance of Katherine dengan ke-OCD-annya dan “kebetulan” yang berlebihan akhirnya saya membaca judul ini hanya karena filmnya yang akan diputar pada tahun ini.

Ceritanya sederhana, bisa dinikmati dan memberikan keseruan di beberapa bagian, terutama saat acara yang terjadi di malam saat Quentin berlarian kesana kemari membantu Margo menjalankan misi-misinya.

Mengangkat kehidupan sehari-hari pelajar SMA, kenakalan, persahabatan dan pergaulan mereka. Tapi dibalik itu semua ada cerita menarik tapi cenderung kelam buat saya pribadi. Kisah kehidupan Margo yang misterius dan tidak bisa ditebak.

Terus bagian mananya yang menarik buat saya? Saya tidak tahu. Mengangkat tema kehidupan remaja memang menarik tapi tidak lebih dari itu. Setiap orang punya permasalahan, rahasia dan cara mereka untuk melewatinya. Selain itu saya tidak bisa menemukan hal yang akan mengingatkan saya terhadap cerita yang ada di buku ini. Mungkin saat inilah saat yang tepat bahwa ‘buku ini bukan buat saya’. Dan hal ini terbukti dari kebuntuan saya menulis. Hahahaha... #ngeles

Wednesday, April 8, 2015

The Darkest Minds (The Darkest Minds #1)

image

Olaaaa.....

Hehehe... Rasa malas menyerang kalbu dan berakhir dengan agak terbengkalainya blog ini. Target 10 post per bulan gagal sudah :D #malahcurhat

Kali ini saya mau menulis tentang buku yang sebenarnya saya selesaikan bulan kemarin (yup...bulan kemarin sebenarnya). The Darkest Minds yang ditulis oleh Alexandra Bracken.

Buku pertama dari seri The Darkest Minds ini berkisah tentang seorang cewek remaja sebagai tokoh utamanya, Ruby Elizabeth Dale seorang Orange #halah. Salah satu Psi langka bila dibandingkan dengan Hijau dan Biru. Kekuatan yang dimilikinya membuatnya untuk memilih dia berbohong dan mengaku sebagai seorang Hijau karena melihat perlakuan berbeda yang diberikan kepada Orange dan Merah.

Orange adalah mereka yang mempunyai kekuatan untuk menyelinap di pikiran lainnya dan menguasai pikiran mereka. Mereka yang mempunyai kekuatan ini dianggap berbahaya.

Biru adalah mereka yang mempunyai kekuatan telekinesis, kekuatan untuk menggerakkan obyek dengan pikiran mereka. Mereka yang mempunyai dianggap tidak berbahaya.

Hijau adalah mereka yang mempunya intelejensia tinggi, yang paling pintar diantara yang lain. Hijau adalah salah satu yang dianggap tidak berbahaya.

Merah adalah mereka yang memiliki kekuatan pyrokinesis, kekuatan yang berhubungan dengan api dan pengendaliannya. Sama seperti Orange, Merah juga dianggap memiliki kekuatan yang berbahaya.

Kuning adalah mereka yang mempunyai kekuatan yang berhubungan dengan listrik, membuat dan mengontrol mereka. Mereka juga dianggap sebagai salah satu yang berbahaya.

Di Kamp Rehabilitasi Thurmond di mana tempat Ruby berada terjadi peristiwa yang berakhir pada pelariannya karena kekuatan yang dimilikinya. Peristiwa lain terjadi dan berakhir pada pertemuannya dengan Liam (Biru), Suzume (Kuning) atau yang dipanggil Zu dan Charles (Biru) atau yang dipanggil Chubs. Bersama-sama mereka melarikan diri dari kejaran dari Children’s League maupun IAAN. Apakah yang akan terjadi dengan mereka dan apakah pihak yang mengejar mereka akan berhasil menangkap mereka?




Okee....

Cukup segitu yang bisa saya tulis tentang buku ini. Kenapa? Karena ceritanya sebenarnya begitu sederhana untuk buku yang bisa dianggap tebal ini, karena itulah saya memutuskan berhenti bercerita sampai disitu supaya perkembangan selanjutnya bisa kalian baca sendiri :D

Ini yang ada di pikiran saya saat membaca buku ini.

Buku ini mengingatkan saya antara perpaduan Divergent series dan Shatter Me trilogy (yang tentu saja mengingatkan kita dengan kelompoknya Prof. Xavier dengan kekuatan mutannya). Pengelompokan manusia berdasarkan kemampuan/ keahlian mereka memang bukan kali ini saja kita temui dalam novel, seperti Divergent (yang sudah saya sebutkan diawal), The Hunger Games bahkan Harry Potter.

Kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing karakter-pun bukan hal yang baru lagi, apalagi buat mereka penggemar X-Men. Novel yang baru-baru saya baca yang juga mengandalkan kekuatan sebagai daya tarik utama adalah Ignite Me yang merupakan buku ketiga trilogi Shatter Me, bahkan karakter mereka juga mirip, sama-sama mencoba kuat, menganggap diri mereka monster dan menganggap diri mereka adalah pusat alam semesta, tapi rapuh di saat yang sama meskipun R tidak seheboh si J... hahaha.... IYKWIM (efek membaca The Casual Vacancy)

Di awal, buku ini berasa berbelit-belit dan jujur susah menangkap apa yang ditulis :D Struktur yang sedikit aneh membuat saya juga sedikit bingung. Akan tetapi karena kecerdasan otak saya, akhirnya saya terbiasa juga membaca buku ini #plakk (di lempar almari sama Ruby).

SPOILER ALERT!! SPOILER ALERT!! SPOILER ALERT!! SPOILER ALERT!! SPOILER ALERT!!


Kisahnya pun sedikit mudah ditebak, apalagi ending yang terjadi dengan salah seorang karakter yang dekat dengan karakter utama.... oh, please... yang LAGI-LAGI membuat saya teringat tentang dengan yang dialami Daniel Altan Wing di Champion karya Marie Lu, yang meski cara mereka mendapatkannya berbeda dengan tujuan yang... :) .

Ignite Me (Shatter Me #3) | Four (Divergent's Companion Book)

10576365THDARKESTMINDS-NEVER-FADE-WELCOME In_the_afterlight

Tuesday, March 17, 2015

Reckoning (The Fallen #4)

image

#latepost

Kekuatan Vilma mulai menggila dan memaksa Aaron untuk mencari cara menyembuhkannya, di samping itu para penduduk Aerie bersitegang pendapat antara menyelamatkan memindahkan Aerie ke tempat yang lebih aman atau bertahan dan menghadapi Verchiel, apalagi setelah kembalinya Belphegor ke surga setelah selama ini dianggap sebagai pemimpin bagi para penduduk Aerie di bumi..

Rencana Verchiel untuk memusnahkan dunia pun semakin bulat, dengan 'bantuan' dari Lucifer yang dia tahan dan sisa para Archon untuk membantunya memuluskan rencana itu dengan melepaskan neraka ke dunia ini. Akan tetapi, Aaron yang dianggap oleh para malaikat yang terbuang dan nephilim sebagai Sang Penebus harus membuktikan dirinya. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk menghadapi Verchiel yang telah memporakporandakan hidupnya untuk menyelamatkan Lucifer dan Para Malaikat Terbuang lainnya. Meski pada awalnya mendapatkan pertentangan dari sebagian penduduk Aerie, akhirnya merekapun turut membantu untuk menghadapi Kekuatan.




Oke, saya akui. saya sedikit lupa karena sudah berhari-hari sejak saya menyelesaikan buku ini. Bukan ingatan saya yang jelek, tapi karena mungkin buku ini yang sedikit mudah untuk dilupakan. #ngeles

Buku ini seru, meski sedikit menggantung di akhirnya, mungkin karena itulah sang penulis memutuskan untuk melanjutkan ceritanya yang semula menjadi 4 buku menjadi 7 buku. Jadi buku inipun sudah bisa dianggap menjadi penutup dengan kekurangan di beberapa cerita yang kesemuanya terkesan menggantung.
The Fallen novels are New York Times bestsellers. The original quartet of stories was published in 2003-2004. They were reprinted with new photo covers in 2010. The next story, End of Days, was published in 2011, with Forsaken following in 2012. - http://www.sniegoski.com/fallen/books.html

Terlepas dari semua itu, cerita 'penutup'nya seru, pertemuaan Aaron dengan sang ayah saat pertama kali dan beberapa bagian lainnya cukup sarat dengan emosi.

Saya sendiri cukup terhibur dengan seri ini setelah skeptikal hanya karena buku ini sering saya jumpai di obral. Pendapat mengenai cara penulisan dan kesan yang saya dapat sudah diwakili oleh tulisan-tulisan saya sebelumnya mengenai seri ini yang bisa dilihat di: #1: The Fallen | #2: Leviathan | #3: Aerie

Saturday, March 14, 2015

Aerie (The Fallen #3)

image

Lagi....

Perburuan dimulai. Camael, Aaron berserta anjingnya Gabriel (yang diberi nama seperti nama malaikat yang dikaguminya) guna menemukan petunjuk mengenai keberadaan adiknya membuahkan hasil yaitu anak buah Kekuatan yang saat itu bermaksud membunuh malaikat buangan lainnya. Tapi bukannya menangkap dan menanyai mereka, Aaron malah kehilangan kendali atas kekuatan yang ada didalam tubuhnya dan bertarung membabi buta dan menewaskan para prajurit itu. Di saat itulah, bersamaan datang dua orang yang merapalkan mantra dan membuat mereka pingsan yang kemudian membawa mereka ke sebuah tempat yang digunakan para malaikat untuk menunggu pengampunan, Aerie.

Dengan belenggu yang mengekang mereka yang dibuat oleh dua orang yang menangkap mereka di hutan yaitu seorang malaikat bernama Lehash, dan Lorelei, seorang nephilim, anak Lehash, Camael akhirnya bercerita tentang jati diri Aaron kepada pria tua yang menjadi pemimpin mereka, Belphegor, yang tentu saja tidak mempercayai perkataannya

Sementara itu, Velchier semakin menjadi dengan ambisinya untuk membunuh Aaron yang telah membuatnya semakin menderita, dia kemudian membawa Malak yang merupakan hasil sihir perubahan para Archeon untuk menculik Vilma yang merasa menjadi gila karena mimpi-mimpinya untuk memancing Aaron supaya datang menyelamatkannya.

Aaron yang akhirnya pergi untuk menyelamatkan Vilma dan berhadapan dengan Malak dan Verchiel.

Apakah Aaron berhasil menyelamatkan Vilma? Siapakah Malak sesungguhnya dan Apakah penduduk Aerie akan menerima Aaron sebagai seorang yang ada di dalam ramalan, sebagai sang penebus?

Buku ketiga dari seri The Fallen yang ditulis oleh Sniegoski.

Dengan intensitas yang cenderung menurun dibanding buku kedua. Masih menarik untuk dibaca, tapi tingkat keseruan pada buku ini menurun. Permasalahannya sama seperti buku pertama, tidak adanya emosi seperti pada saat Aaron mendapatkan informasi mengenai siapa ayahnya atau saat dia menemukan keberadaan adiknya, Stevie yang menjadi tujuan utama di buku pertama dan keduanya, meski harus diakui kali ini tidak sekosong buku satunya.

Bila dilihat dari eksekusinya buku ini mengalami perkembangan, penulisannya lebih tertata rapi dan jelas, terlepas dari cara penerjemahan yang sedikit tidak konsisten dalam penggunaan kata/ kalimat.

Thursday, March 12, 2015

The Fallen (The Fallen #1)

image

Kehidupan Aaron Corbet, seorang yatim piatu yang sekarang tinggal bersama dengan keluarga yang mencintainya, mengalami keanehan saat usianya menginjak 18 tahun. Mulai dari saat dia mengerti pembicaraan Vilma, seorang teman di sekolahnya, bersama teman-temannya yang berbicara dalam bahasa Portugis. Dia mengira itu hanyalah keanehan biasa, apalagi saat Vilma yang dinilai sebagai cewek tercantik di sekolahnya berpendapat bahwa dia ganteng.

Merasa janggal dengan keadaannya sekarang, dia memutuskan untuk mengunjungi psikiater untuk membantunya mencari kejelasan. Uji coba pun dilakukan sang psikiater kepadanya untuk membuktikan apa yang dialaminya dan memutuskan untuk membawanya ke salah satu teman yang ahli. Di lain waktu, seorang pria menghampirinya dan berkata bahwa dia berbeda, bahwa dia adalah seorang nephilim yang entah apa artinya itu. Ketidakpercayaannya terhadap pria yang baru pertama kali ditemuinya itu menuntunnya untuk mencari informasi lebih tentang apa sebenarnya nephilim itu.

Pertemuan selanjutnya dengan pria yang kemaren ditemuinya, yang ternyata bernama Ezekiel atau yang dipanggil Zeke membuatnya lebih waspada dengan apa yang akan dilakukan orang itu, apalagi saat dia melakukan kejadian yang membuatnya marah dengan alasan untuk 'memancing' kekuatan yang ada di dalam diri Aaron.

Di lain pihak, Kekuatan mencari dan memburu para pendosa yang lari ke bumi setelah kekalahan Lucifer pada Perang Besar Surga. Kekuatan yang merupakan kelompok malaikat yang dipimpin oleh Verchiel, bertindak atas nama Tuhan untuk membunuh semua para pendosa, Malaikat yang jatuh dari Surga, Malaikat yang melarikan diri ke bumi setelah peperangan kemudian menikah/ mempunyai anak dengan manusia, dan bahkan nephilim sendiri yang merupakan anak hasil dari hubungan mereka. Semua itu dianggap Kekuatan sebagai pengkhianatan terhadap Tuhan.

Tapi, apakah yang mereka berada di posisi yang benar mengingat Sang Penguasa sudah lama tidak berhubungan dengan Verchiel? Apakah Aaron berhasil menguasai dirinya dan menghadapi kegilaan yang dialaminya?




Lagi, sebuah novel yang memakai peperangan antar malaikat sebagai konsep utama cerita, meski dalam perjalanannya perkembangan ceritanya bercabang ke aksi penyelamatan adik Aaron, Stevie yang diculik oleh Kekuatan dan akan digunakan sebagai persembahan kepada Tuhan.

Tapi, ceritanya sendiri ditulis dengan cara yang cukup membuat saya sedikit bosan. hehehe.... Alur yang lambat dan nyaris tidak ada emosi di dalam tulisan di bagian yang harusnya bisa digali lebih dalam lagi kedalaman emosinya (entah apakah karena ini efek terjemahan atau dari asalnya seperti itu). Karakter yang muncul pun (selain Verchiel) tidak cukup kuat, penggambaran dan pengarakteran yang lemah sehingga kali ini entah kenapa tidak berbekas dalam ingat tentang karakter masing-masing tokoh.

Selain itu, masih dinikmati meskipun tidak terlalu bersemangat untuk melanjutkan Yap, untuk kali ini saya harus memaksa diri sendiri untuk membaca lanjutannya.

Friday, February 27, 2015

Ignite Me (Shatter Me #3)

image

Dear, Juliette Cewek plin-plan

Sebenarnya aku nggak tahu musti ngomong apa sama kamu dan takut karena dirimu yang suka labil mendadak, tapi aku beranikan juga akhirnya. Maaf kalo tulisan ini sedikit ngaco, karena memang inilah yang aku rasakan tentangmu. Yup, plin-plan... entah kenapa aku merasa pendirianmu mudah goyah, kalo alasannya karena kamu manusia dan seorang perempuan bisa sedikit aku maklumi, meskipun pembelaanmu itu nggak kreatif tetap aja kamu itu kurang yakin sama pendirianmu. Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah hampir melemparkan dirimu ke jalan depan rumahku (yang ini mungkin aku dramatisir :D). Hampir tiap waktu lho, nggak ada hitungan hari malah... ketika kamu ngambil keputusan A tapi karena ngeliat reaksi yang lain, kamu jadi bimbang, ragu dan nggak yakin sama apa yang sudah kamu pikirkan sebelumnya. please, deh.... kamu tuh bukan bulu burung yang ringan dan suka kebawa angin. Meski aku akui akhirnya kamu sedikit berubah (cuman sedikit, ga usah GR), tapi aku apresiasi hal itu.... sekali lagi, meski cuman sedikit banget.

Dear, Juliette Cewek maruk

Kamu pikir hati cowok bisa dimainin? Apalagi oleh cewek sepertimu. Manfaatin kelemahan dan ketidakberdayaanmu untuk tempel sana tempel sini. Macam cicak aja kau ini, yang mendekati mangsanya diam-diam terus memakannya...(meskipun nggak kamu makan juga lah) dalam hal ini kamu kecewakan mereka, kamu hancurkan hati mereka. Jijik tahu nggak? Kalo memang kamu cuman butuh teman ya jangan berikan mereka harapan yang lebih. Emang bener bukan aku yang kamu kecewakan, tapi sebagai sesama manusia yang PUNYA perasaan, ngeliatnya aja bikin muak. Kamu kira kami barang yang bisa diganti siapa saja yang kamu mau?

Dear, Juliette Cewek lebay

Kamu tuh ya... bersikap biasa dikit bisa nggak? Kamu pikir kamu itu matahari? Yang dikelilingi planet-planet dan menjadi pusat galaksi kita ini. Kamu pikir kamu tuh yang paling sengsara di dunia ini? Yang paling sedih dan paling suci? Kamu tuh cuman cewek yang menyedihkan tahu nggak. Ngaku-ngaku keluarga tapi yang kamu pikirin cuman kamu, kamu dan kamu. Egoisnya ga ketulungan, apalagi saat kamu merasa seolah-olah dunia akan hancur bila kamu sedih. Terus yang kamu lakuin di gedung itu... Apa-apaan itu! Sok-sokan menguasai orang lain, blah....omong kosong. Nguasai diri sendiri aja bbutuh bertahun-tahun....lha ini?!?


Dear, Juliette Cewek ga penting

Rasanya cukup ini saja lah. Dibaca syukur, ga dibaca ya udah. Nulis ini juga cuma buat ngebuang waktu luangku kok... ga usah mikir kalo aku nulis ini KHUSUS buatmu..

Tepat dugaan anda!

Diatas saya menulis curhatan saya untuk tokoh utama IGNITE ME yang merupakan buku ketiga dari trilogi SHATTER ME yang ditulis oleh Tahereh Mafii yang merupakan buku pamungkas.

Juliette dan Warner merencanakan untuk melakukan kudeta, setelah Julliette yang berhasil sembuh dari tembakan Anderson dan dirawat oleh Warner yang di bantu oleh dua penyembuh. Juliette akhirnya keluar dari persembunyian dengan dibantu oleh Warner tentu saja dan bertemu dengan Kenji yang membawanya untuk menemui penduduk penghuni Omega Point yang tersisa masih hidup setelah serangan Anderson ke tempat itu.

Rencana baru yang akhirnya membuat Adam naik pitam selain karena persekutuan yang dilakukannya dengan Warner yang berniat membunuhnya, juga karena perasaan cemburu karena dia masih mencintai gadis itu pada saat itu

Apakah yang akan terjadi dan berhasilkah mereka membunuh Anderson?




Akhirnya..... selesai juga siksaan buku ini terhadap saya :D

Mencoba bertahan dengan mengikuti buku ini sampai akhirnya. Dan dengan bangga saya menyatakan bahwa (drum roll, please) SAYA SELESAI. Dengan mengharapkan akhir dari cerita yang memuaskan hati dan pikiran tapi yang saya dapatkan akhir cerita yang "udah, gitu aja? oke".

Ada dua hal yang menarik rasa ingin tahu saya dan membuat saya tidak sabar segera menyelesaikan buku ini, yaitu apa yang terjadi antara Warner dan Adam iykwim dan berhasil tidaknya mereka membunuh Anderson. Setelah sampai ke halaman 400 dan belum ada tanda-tanda jawaban atas apa yang saya cari, harapan saya pupus hilang dan siap-siap menelan kekecewaan. Roman yang terjadi di antara mereka ber-empat ber-tiga juga, seperti sinetron Indonesia dengan Cewek Galau sebagai center point-nya.

Perkembangan ceritanya sangat amat mengecewakan buat saya pribadi. Ketegangannya juga sangat minim, aksi yang bahkan sampai mendekati akhirpun tidak kentara. Semua seolah ditulis begitu saja supaya cepat selesai, fokus cerita pun lebih berpusat pada kisah percintaan si Cewek (pura-pura) Lemah dan bukan ke perjuangan kelompok itu demi sebuah kebebasan yang saya kira menjadi poin utama trilogi ini.

Tuesday, February 17, 2015

The Iron King (The Iron Fey #1)

image
Saya mau curhat....hahaha...

Soal buku yang baru saya selesaikan beberapa hari yang lalu. Yup, The Iron King tulisan Julie Kagawa. Bisa ditebak dari cover buku di atas :D

Sempat berpikir untuk melanjutkan seri ini dengan membeli buku impornya dikarenakan banyaknya bertebaran bintang dari member Goodreads lainnya dan juga karena dari penerbitnya sendiri yang tidak terdengar kabarnya dari tidur panjang. Tapi setelah saya memaksa diri berhasil untuk menyelesaikannya, saya mengurungkan niat tersebut. Bukan karena ceritanya yang jelek tapi lebih ke ceritanya yang mudah terlupakan. :)

Julie menulis kisah seputar dunia seputar per-faery-an dan konflik di dunia tersebut. Dengan tokoh utama seorang gadis yang sebenarnya hanya berusaha untuk menyelamatkan adiknya dan ayahnya(?) yang ditukar diculik  oleh faery.

Tanpa petunjuk yang dikantongi (hanya bahwa adiknya diculik oleh Kerajaan Musim Dingin), dia akhirnya pergi ke dunia faery bersama teman baiknya, Robbie. Di dunia tersebut mereka bertemu dengan Ash, Sang Pangeran Musim Dingin (yang sudah mengincar dirinya Robbie sejak di dunia dimana dia tinggal) dan Grimalkin si Cait Sith yang selalu meminta pembayaran akan bantuannya dan pergi saat keadaan genting.

Ide ceritanya simpel, Pertentangan antar negara atau kelompok atau semacam itu, eksekusinya juga tidak membosankan dan enak dibaca. Tetapi saya pribadi sama sekali tidak menemukan emosi pada buku ini, seperti kemarahan yang berlebihan atau rasa sedih yang dialami tidak cukup atau rasa tegang saat pertarungan dan lain sebagainya. Seolah hanya membaca dari mata dan menguar di otak. Meski masih mengingat akan ceritanya tetapi akan cepat untuk dilupakan sepertinya.

Perkembangan hubungan antara pemain yang...gimana ya...sedikit konyol karena tiba-tiba KARENA keadaan akhirnya mereka bersama, dan karena yang lain dianggap sebagai kakak....sepertinya, Tapi hal itu lebih karena saya bukan pecinta cerita tidur-pada-pandangan-pertama meski mereka tidak tidur bersama, setidaknya belum. :))

Demikian curhatan saya.

Sunday, February 8, 2015

Erebos

image

Erebos: enter the game and prepare to die. Sebuah buku yang mengangkat RPG sebagai konsep utama. Permainan yang akan memaksamu membuatmu rela melakukan segala hal untuk maju bertahan.

Dalam permainan bertema petualangan ini, pemain diharuskan memilih ras diantaranya vampir, kurcaci, manusia, dark elf, dan bahkan barbar. Pertemuan dengan Si Orang Mati akan mengawali perjalanan dan si Pembawa Pesan yang akan "membantu" dalam memberi imbalan atas usaha kalian serta memenuhi permintaan pemain. Tidak lupa gnome yang akan memberi kalian jawaban dan membuatkan nisan kalian. Rasa ingin tahu dan penasaran akan membuat kalian mati.

Misteri asal mula permainan ini mulai terungkap satu persatu dengan dibantu oleh kelompok gamer dimana cewek yang ditaksir, Emily, bergabung. Konflik demi konflik terjadi yang berujung pada terbongkarnya semua realita yang ada.

Apa sebenarnya Erebos? Kenapa dan apakah yang menyebabkan semua ini terjadi? Apakah Nick akan berhasil menyelamatkan teman-temannya?




Ursula berhasil membuat karya yang memproses mencampuradukkan antara kenyataan dan permainan. Gaya berceritanya sendiri yang meskipun panjang tapi asyik untuk dibaca setiap lapisnya lembarnya. Apalagi dengan dibaginya buku ini menjadi 2 bagian meski tersamar yaitu saat sang tokoh utama, Nick, bermain dan terjerumus ke dunia Erebos dan saat perjalanan penyelidikannya tentang misteri game ini setelah kejadian yang tidak diinginkan menimpa temannya, Jamie.

Perpaduan antara misteri dengan sedikit bumbu horor, petualangan dengan sedikit teka-teki adalah poin tambah buku ini. Tak lupa disisipkan roman sebagai pelengkap meskipun bukan sebagai hidangan utama. Apalagi dengan gaya bercerita yang lugas dan tidak bertele-tele berhasil membangun atmosfer yang kelam dan menegangkan di setiap kalimat yang digoreskan.

Dalam hal ini Ursula juga memperlihatkan bahwa game juga bisa membuat kecanduan dan menjadi pemisah dengan dunia nyata dan kehidupan sosial mereka serta berpengaruh dengan emosional pemain, tak jauh beda dengan pengaruh minuman keras ataupun zat adiktif. Memutar balikkan dunia di mana mereka berada dan memaksa membuat para pemain rela melakukan apa saja untuk mendapatkan "kesenangan" mereka.

Saya merasa puas dengan semua hal yang ada, meskipun beberapa bagian masih terkesan menggantung.