Showing posts with label Dewasa. Show all posts
Showing posts with label Dewasa. Show all posts

Friday, September 30, 2016

[QR] The Rose & The Dagger (The Wrath & the Dawn #2)

rosedagger

Gosh, I'm melting....

Sweet Romance story by Renee Ahdieh. at the beginning, I thought this book is one of fantasy. But after read The Wrath & The Dawn then I realized that the fantasy itself is about a little bit magic and the rug, other than that I prefer to called it Romance.

Sebuah kisah manis yang ditorehkan oleh Renee Ahdieh dengan mengangkat kisah yang berlatar belakang negeri 1001 malam. Sebuah perjuangan cinta dari sang raja pembunuh dan perempuan yang bertekad untuk membunuhnya. Masih ditulis dengan apik dan mengalir di setiap kata-katanya, mudah untuk dibaca dan dimengerti sekaligus untuk di-imajinasikan dalam putaran otak pembaca. Setiap adegan terlihat jelas meski ada yang kurang masuk diakal, seperti "menendang pisau", they're in the desert, right? is it possible to do that without kicked the sands too. Sepele, tapi cukup untuk membuat saya terikat dengan kalimat tersebut setelah beberapa halaman.

Meski dari segi cerita tak secemerlang seperti buku pertamanya akan tetapi dilihat dari keseluruhan cerita buku ini berhasil menyajikan akhir yang, tentu saja kurang memuaskan saya tapi berhasil menutup kisah dengan cantik. Saya pribadi (bilang saya kejam) tapi ingin aksi yang menegangkan, memacu adrenalin di akhir cerita untuk mengantarkan anti klimaks. Pada buku ini terlihat datar, meski baru sadari pada akhirnya "apakah buku seperti ini cocok dengan hal yang kejam didalamnya".

Masih banyak hal yang ditinggalkan begitu saja tanpa menjadi perhatian, Seperti kisah sang sultan, sang ayah, sang prajurit yang kesemuanya dianggap seperti angin lalu, seperti kisah yang tak terbantahkan yang diabaikan begitu saja. Bahkan kisah tentang karakter dan benda yang dibawanya tidak diceritakan lebih lanjut. Padahal menurut saya, kisah mereka bisa menambah buku ini menjadi lebih kuat. Penulis memutuskan bahwa kisah-kisah mereka harus diselesaikan dalam angan.

Tapi meski begitu, 4 bintang untuk buku yang sukses membujuk saya menyelesaikannya dengan cepat dan puas.

PS. Terjemahannya sendiri, saya bilang memuaskan meski beberapa kalimat harus dibaca dua tiga kali dan typo yang cukup menganggu. "membingungkankannya", "tergkurap" dan beberapa lainnya.

Tuesday, September 6, 2016

[GR] Daughter of Smoke & Bone (Daughter of Smoke & Bone #1)


Smoke 

Daughter of Smoke and Bone - Dari Asap dan Tulang by Laini Taylor

My rating: 3 of 5 stars
Paperback, 488 pages

Published September 2012 by Gramedia Pustaka Utama (first published September 27th 2011)

Original Title:  Daughter of Smoke & Bone

ISBN13: 9789792287813

Edition Language: Indonesian

3 is generous enough

reading this book is like a landslide..
when it's opened with a good story and ended with a bad one. almost bored to the end.

at first opening the pages is a kind of a great feeling and exciting in every part, because Karou's life and love is more interesting than the other stories. and yeah, i really don't care where she come from.

at the middle, the story begin to start sinking for me. new character that interesting yet mysterious, the development gone to the direction that i'm not really expected to.

at the end, it's all about her story or to be exact is all about herstory (history), where she came from, what is she etc. even it's end up with 'question' line what will happen next. even though this part is not as thick as any other part but, the story makes this one thicker.

---------
Sebenarnya pada awal mula cerita, buku ini mempunyai daya tariknya tersendiri. saya kira buku ini mengenai kehidupan sang karakter utama, sekarang. tapi kenyataannya, buku ini lebih berisi tentang sejarah hidup Karou dan siapa dia sebenarnya, yang menurut saya sebenarnya cukup membosankan. latar belakang tokoh memang sangat penting tapi, disini, penulis seolah mengulur-ulur waktu demi tercapainya jumlah halaman buku. sedari pertengahan halaman yang akhirnya dikisahkan pada akhir bagian buku dengan cukup membosankan.

World building-nya sendiri tidak terlalu kuat bagi saya, bahkan berulang kali saya meyakinkan dan mengingatkan bahwa kejadian ini berlangsung di Praha, itu juga karena membaca kata tersebut pada buku ini, ketika otak mengacu pada budaya dan kultur amerika dengan gedungnya, yang tidak cukup menegaskan keberadaan bangunan yang menjadi faktor pendukung cerita seperti di Praha.

Dari segi emosi, buku ini tidak terlalu banyak mempengaruhi emosi saya yang biasanya terbawa dalam suasana dan kisah yang dialami karakternya.

Kesimpulannya, sebagai bacaan buku ini jangan diharapkan lebih, pada permulaan boleh tapi semakin bertambahnya halaman, buat saya semakin membosankan. Mudah-mudahan buku selanjutnya lebih berfokus pada kehidupan Karou yang sekarang dan tidak diombang-ambingkan dalam cerita yang tak tentu arah.


StampView all my reviews

Saturday, August 6, 2016

[QR] See Jane Run

See jane Run

Ish.... bukunya seru woyyyy!!! Ceritanya maksudku.

Buku ini berkisah tentang seorang wanita yang lupa (amnesia) karena hal yang memicu otakknya untuk melupakan kejadian yang dia alami. Dengan baju yang berlumuran darah dan uang US$10,000 yang ada di saku, satu-satunya hal yang dia ingat saat itu hanyalah membeli roti dan susu (tiba-tiba saya juga amnesia..saya ingat dengan pasti bagian susunya.. saya nggak ingat yang satunya..#plakk). Secarik kertas juga dia temukan, kertas bertuliskan nama Pat Rutherford, R.31, 12.30 (CMIIW..saya lupa lagi XD), kertas yang sama sekali tidak membantunya mengingat siapa dia. Kebingungan dan ketakutan menyelimuti dirinya yang kalut, berjalan tanpa arah kesana kemari hingga pada kejadian ada yang mengenali dirinya.

Cerita yang ditulis oleh Joy Fielding ini mengalir begitu saja saat dibaca, terjemahannya yang enak dan mudah dimengerti mendukung ceritanya sendiri yang simpel tapi menarik. Meski buku versi terjemahannya bisa dibilang agak berat untuk ditumpu dengan satu tangan (ceritanya saya curhat) tapi hal itu bukan menjadi alasan untuk meletakkan buku ini.

Buat saya pribadi, cerita ini akan lebih terasa dampaknya apabila penulis menggunakan sudut pandang orang pertama, jadi alih-alih menggunakan karakter yang dijalankannya, pembaca akan tersedot dalam ceritanya dan memaikan karakter tersebut. Rasa tegang, kebingungan, kemarahan dan ekspresi yang dirasakan Jane akan semakin terasa dari sisi pembacanya.

Karakter Jane bisa saya rasakan dan emosi yang dia rasakan bisa saya selami dan dimengerti. Meski terkadang naik turun dan membuat saya berapi-api, meski hal tersebut sebenarnya positif karena penulis berhasil mempengaruhi pembacanya.

Kesimpulannya, buku ini keren, memikat dan gratis #eh.

SPOILER ALERT!!!


(JANGAN di-highlight bila tidak ingin teracuni)


Tulisannya runtut, sampai pada saat kita merasa diberi kejelasan akan keadaan, ternyata masih ada kisah lain di balik cerita tersebut. Twist-nya berhasil meruntuhkan kecurigaan saya di awal saya membaca blurb buku ini, dan Fielding kemudian memutarbalikkan keadaan sekali lagi. Sayang, akhir cerita dibuat menggantung begitu saja. Anti klimaks dipenggal dan diteruskan oleh pembacanya masing-masing di pikiran mereka. Rasa penasaran yang ada serasa dipangkas ditengah jalan dan pembaca disuruh menyelesaikannya sendiri.

Stamp

Thursday, August 4, 2016

[QR] Step on the Crack & Run for Your Life (Michael Bennett #1 & #2)

James

Kyuuu aRRRRR.... ...fufufufu...

Kali ini saya mau ngomongin tentang seri lain dari James Patterson dan co-Authornya Michael Ledwidge, yaitu Michael Bennett (sebuah kebetulan semata). Seorang Polisi detektif yang sering bertindak sebagai negosiator dalam sebuah kasus. Memiliki sepuluh anak angkat dikarenakan dia dan istrinya dipastikan tidak bisa memiliki anak sendiri. Maeve, seorang mantan perawat yang kini dalam kesehariannya bertarung melawan penyakit yang dideritanya. Dengan cinta kasih dari suami dan kesepuluh anaknya. Dia terus berusaha melawan kematian.

Jujur saja, untuk seri ini saya belum tidak merasakan diri saya menyatu dengan buku ini. Entah karena masalah bahasa atau memang dari segi penulisan cerita yang kurang menarik. Kita sebut saja alasan yang kedua, karena seri sebelumnya yang saya baca, Women’s Murder Club yang memiliki kisah dan tema yang sama, saya menemukan banyak daya tarik yang tidak saya temui pada buku ini. Jadi kemungkinan yang bisa saya ambil karena gaya bercerita dan pemilihan kata pada buku ini yang sedikit tidak sesuai dengan selera saya.

Mungkin pendapat ini  terlalu awal karena saya baru membaca dua buku pertamanya yaitu Step on the Crack dan Run For Your Life. Buat saya, dari segi cerita sendiri, banyak hal yang lepas dan ditiadakan.

Pada buku pertamanya, Step on the Crack cerita masih terbantu dengan kisah hidup dari sang detektif itu sendiri bersama istri dan anaknya yang bisa dinilai lumayan bagus sebagai pendahuluan keseluruhan seri yang akan diterbitkan, meski pengenalan tokoh dan latar belakang tidak terlalu kuat karena banyaknya karakter yang dikenalkan sekaligus dalam satu waktu. Untuk buku kedua, cerita pendamping  (cerita kehidupan karakter utama) mendapatkan porsi jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan buku pertamanya. Dan harus diakui, cerita pendamping tersebut lebih menarik dibanding kasus yang sedang dia hadapi, lebih mendapatkan kesan dan perhatian khusus. Pada buku kedua, kehidupan Bennett sedikit disinggung dan kisahnya biasa saja, tak banyak hal yang menutupi kekurangannya.

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, penggambaran karakter yang ada terlalu timpang, atau  bisa dibilang hanya karakter utama saja yang dituliskan sedikit lebih detil apabila dibandingkan dengan karakter lainnya. Bahkan latar belakang atau cerita anak-anaknya sendiri tidak disinggung selain fakta bahwa 1. Mereka anak angkat 2. Mereka keturunan Hispanic, Kulit Hitam, Kulit Putih dan Asia 3. Selebihnya hanyalah pemoles belaka.

Kenapa saya mengkritisi hal tersebut, karena pada blurb buku pertamanya. Hal itulah yang dititikberatkan sebagai penarik minat pembaca untuk seri ini.

Kesimpulannya, sampai pada saat ini (buku kedua) saya belum mendapatkan hal yang “wah” dengan buku ini.

Stamp

Saturday, July 30, 2016

Women's Murder Club (Part 1)

WMC

Goodreads' Link list:
1st to Die (Women's Murder Club, #1)
2nd Chance (Women's Murder Club, #2)
3rd Degree (Women's Murder Club, #3)
4th of July (Women's Murder Club, #4)
The 5th Horseman (Women's Murder Club, #5)
The 6th Target (Women's Murder Club, #6)
7th Heaven (Women's Murder Club, #7)
The 8th Confession (Women's Murder Club, #8)
The 9th Judgment (Women's Murder Club, #9)
10th Anniversary (Women's Murder Club, #10)
11th Hour (Women's Murder Club, #11)
12th of Never (Women's Murder Club, #12)

Wikipedia's Link

Greets!!!

Selamat pagi-siang-sore-malam semuanya.

Kali ini saya bakalan mengulas salah satu seri yang baru saja saya selesaikan buku-bukunya yang saya punya. Yup...buku-bukunya alias dua belas buku berkelanjutan sekaligus. Karena rasanya entah kenapa bukunya sedikit susah dilepas. Women’s Murder Club karya James Patterson dan Andrew Gross (untuk buku dua sampai tiga) dan Maxine Paetro (untuk buku selanjutnya sampai coretan ini ditulis – buku kelima belas).

Kali ini saya akan membahas keduabelas buku pertamanya (yang kebetulan saya hanya punya sampai buku keduabelas) dan mudah-mudahan saya bisa melanjutkannya ke bagian selanjutnya (untuk buku-buku seterusnya). Disini saya akan menggambarkannya secara keseluruhan buku alih-alih satu per satu karena menurut hemat saya, karena ini masuk dalam kategori misteri yang tidak menarik apabila tidak dibaca sendiri (baca: malas bikin revie per judul).




Berkisah tentang keseharian Lindsay Boxer, seorang detektif wanita bagian pembunuhan dari satuan polisi San Francisco (San Francisco Police Department – SFPD) yang bertugas memecahkan dan menuntaskan kasus yang mereka hadapi, dibantu oleh sahabatnya Claire Washburn yang kebetulan pula bertugas sebagai Medical Examiner, Cindy Thomas, reporter dari harian The Chronicle yang terkadang membantu mendapatkan informasi ‘tak resmi’ dan sebagai ganti berita eksklusif yang ditulisnya. Ada pula Jill Bernhardt, ADA - Assistant District Attorney yang tentu saja membantu dalam hal surat penggeledahan dan sebagainya. Kemudian sebagai tambahan, Yuki Castellano, seorang pengacara muda yang cerdas blasteran Jepang Italia.

Mereka tergabung dalam sebuah perkumpulan tak resmi "bermarkas" di Susie's, sebuah tempat makan yang sering mereka gunakan sebagai tempat bertemu untuk membicarakan kasus yang mereka tangani dan kehidupan mereka sehari-hari yang kesemuanya ‘off the record’ atau tidak tercatat dalam laporan apapun sampai secara resmi dan tidak bisa digunakan sebagai bahan dalam penulisan artikel (bagi Cindy tentunya) sampai pada saat Cindy mendapatkan lampu hijau dari Lindsay, yang bisa dibilang sebagai ketua dari Women’s Murder Club.




13744096_1745588749012588_990354281_n

Secara keseluruhan, ceritanya ditulis dengan sangat apik, beralur cepat dan bisa dinikmati meskipun beberapa hal masih kurang dalam hal penggambaran latar belakang. Akan tetapi untruk cerita semacam ini, hal tersebut tidak mempengaruhi jalannya cerita karena hal yang digunakan pada akhirnya adalah hal yang tertulis pada awalnya, petunjuk yang ada telah dituliskan sebelumnya meski harus diakui beberapa hal masih tampak samar.

Karakter yang dipergunakan oleh JP dan co-Authornya pun berhasil digambarkan dengan sangat baik dan jelas. Mulai dari Lindsay yang tinggi (menjulang) untuk ukuran perempuan, barhati gigih, pantang menyerah dan mempunyai insting yang bagus dalam setiap kasusnya sampai ke Cindy yang terobsesi dengan pekerjaannya, cekatan dan gesit dan cerdik dalam mencari cara untuk mencari informasi baik untuk klubnya sekaligus sebagai bahan tulisan untuk artikelnya berkenaan dengan kasus yang sedang mereka hadapi.

Tokoh-tokoh minor lainnya seperti Rich, Brady-pun cukup digambarkan dengan sangat baik.

Untuk beberapa buku awal, cerita berfokus kepada Lindsay yang berusaha memecahkan kasus yang ditanganinya bersama dengan rekan kerjanya, Jacobi Warren. Tapi kemudian setelah buku ketiga, cerita mulai lebih fokus ke kejadian lainnya juga, entah dari sisi Claire, Cindy, Jill, Yuki atau tokoh lainnya (mungkin karena penggantian penulis). Bahkan pada buku kesebelas dan keduabelas, cerita berkenaan dengan Lindsay banyak sedikit berkurang.

Drama, tentu saja ada. Meskipun porsinya sangat sedikit, romantisme dan kehidupan pribadi tokoh-tokoh yang ada cukup untuk memberikan warna kepada buku yang bisa dibilang “sedikit kelam” ini. Meski terkadang, saya merasa masih belum cukup dan ada kalanya lebih tertarik kepada keseharian mereka.

Kasus yang dihadapipun sangat beragam, ada yang terjawab dengan mudah, ada yang membutuhkan usaha lebih, bahkan ada yang masih menimbulkan ketidakpastian sampai akhir. Beberapa kasus bahkan malah bisa diselesaikan tapi masih digantung oleh penulis, yang kemudian saya pelajari akan diselesaikan pada buku berikutnya, entah yang mana karena tidak berurutan. Ada pula kasus yang memberikan kepuasan buat pembacanya dan kasus yang.. yah... membuat emosi...sedikit sih tapi. Buku ini pun diwarnai dengan banyak kejadian tak terduga lainnya. Semua kejadian ditulis dengan baik dan memuaskan.

Jujur saya sendiri, memberikan rating dengan ikhlasnya untuk seri ini antara tiga dan lima bintang, dengan mayoritas empat bintang. Mungkin karena saya menyukai wanita tangguh, cerdas dan berkepribadian kuat. #plakk

Overall, saya puas dengan karya James Patterson yang satu ini. Kebetulan saya membaca buku dalam bahasa aslinya, Inggris, karena setelah mencoba terjemahannya yang diterbitkan oleh Gramedia beberapa lembar. Sedikit lucu bagi saya pribadi (mungkin karena saya hanya baca beberapa lembar).

Women's Murder Club (TV Series)


Women-womens-murder-club-9779111-1024-768

Seperti Sunday at Tiffany's, beberapa buku Alex Cross dan yang terakhir , Zoo.

Seri ini sempat mencicipi layar televisi dalam perkembangannya. mengangkat konsep serupa dengan bukunya, yang sesuai dengan judulnya. Seri 13-episode ini juga mengangkat kisah tentang Lindsay Boxer dan teman-temannya. Akan tetapi, pada seri ini hanya karakter merekalah yang dipakai dan bukan cerita pada bukunya. Banyak perubahan berkenaan dengan korelasi antar permain, kasus dan lain sebagainya. Seperti misalnya, Tom yang merupakan mantan suami Lindsay, kembali dan bekerja di tempat yang sama sebagai atasan sedangkan pada bukunya hanya disinggung pada buku pertamanya, Cindy Thomas bekerja untuk The Register dan The Chronicle adalah pesaing mereka dan masih banyak lagi.

Jadi buat kalian yang pengen mencoba seri tanpa membaca bukunya, tak usah takut. Karena buku dan TV seri jauh berbeda. Tapi, buat saya pribadi, seri ini tidak sebagus bukunya, meski dibantu dengan visual, akan tetapi saya masih menilai bahwa karakter yang ada di buku lebih kuat. Oleh karena itu, jangan menilai bukunya dari serinya.

Sayang, seri ini hanya bertahan satu musim saja, jadi tidak ada kemungkinan kita bisa mengamati perkembangan para karakternya,

imdb's Link
Wikipedia's Link

wmcforfyeah

 

Monday, May 16, 2016

The Immortals of Meluha

image


The Immortals of Meluha by Amish Tripathi

Translator: Nur Aini
Editor: Agus Hadiyono
Paperback: 586 pages
Published: June 2013 by Mizan Fantasi
Original title: The Immortals of Meluha
ISBN13: 9789794337387
Language: Indonesian
Series: Shiva Trilogy #1
Setting: Meluha, Lembah Indus

Sebuah cerita tentang legenda manusia yang akan membawa perubahan, kebenaran dan kemenangan di dunia Meluha. Cerita perjalanan menuju sebuah kesejahteraan dan kedamaian sejati.

Suryavanshi dan Chandravanshi adalah dua kelompok yang bertempat tinggal di tempat yang berbeda dan mempunyai pedoman hidup yang berbeda. Bersinggungan satu sama lain dengan prinsip hidup masing-masing yang saling bertolak belakang sehingga menimbulkan perpecahan dalam dunia Meluha.

Akan tetapi ada sebuah legenda kuno yang mengatakan bahwa “ketika kejahatan mencapai puncaknya, dan semua tampak telah hilang, saat musuhmu terlihat telah mencapai titik kemenangannya, seorang pahlawan akan muncul.”

Shiva, sosok manusia biasa yang menjalani kehidupan dengan sederhana dalam kesehariannya sampai suatu ketika muncul tanda bahwa dia-lah yang disebut dalam legenda tersebut. Tapi, apakah dia benar-benar manusia yang disebut-sebut dalam legenda itu? Apakah dia bisa menjalankan tugas barunya sebagai pahlawan yang ditunggu-tunggu? Apakah legenda itu akan menjadi kenyataan? Apakah dia berhasil membawa suryavanshi ke gerbang kemenangan dan mencapai puncak kejayaan? Apakah dia akan berhasil membawa perubahan? atau malah kehancuran?




Sebuah buku yang menarik, menggabungkan antara fakta dan fantasi penulisnya karena mengambil penokohan yang sangat jarang digunakan yaitu dewa dalam kehidupan India (lebih tepatnya agama Hindu) dengan setting tempat di Meluhha (yang terletak di India Barat dan Pakistan) dengan latar belakang peradaban Lembah Indus lengkap dengan Sungai Sarasvati kuno yang pernah mengalir disana. Dan tentu saja karena disanalah dipercaya sebagai tempat akar dari agama Hindu.

Karakter utama yang dihidupkan oleh penulis dalam buku inipun sangat kuat dan menonjol. Shiva misalnya, seorang yang bijak (dan tidak bisa dibilang muda), penuh dengan filosofi hidup, dengan pemikirannya yang bebas dari aturan yang ada dan berlaku kemanapun dia pergi (yang menurut saya cenderung suka seenaknya sendiri – in a good way, of course). Meskipun ada pula beberapa karakter yang tidak diceritakan dengan jelas pula dikarenakan mereka hanya sebagai tokoh tambahan dalam cerita. Naga contohnya, manusia yang mempunyai keyakinannya sendiri dan melakukan perburuan manusia dengan kepala yang digunakan sebagai simbol kemenangan.

Akan tetapi, dikarenakan disini penulis mengambil seorang/ lebih tokoh dari salah satu agama, penulis terkesan sangat berhati-hati agar tidak melanggar batasan yang ada sehingga tidak menimbulkan konflik. Jadi, jangan heran kalau banyak tulisan yang berisi tentang hal baik (hampir keseluruhan). Jadi menurut saya, penulis seolah dikekang oleh keadaan dan tidak bisa berimajinasi secara luas.

Sebenarnya, konsep buku ini bisa dibilang membosankan karena sudah terlalu banyak buku dengan konsep cerita yang sama. Kisah perjalanan hidup seorang manusia biasa, yang kemudian mencapai puncak kedudukan dikarenakan kekuatan yang dimilikinya atau hal yang dia lakukan, kisah yang sangat sederhana dan umum. Karena sejauh yang saya tahu, semua kisah kepahlawanan memiliki konsep yang sama dan percaya atau tidak, saya teringat Cinderella (dengan sepatu kacanya yang tertinggal) saat membaca adegan Shiva mendapatkan tanda bahwa dialah yang dimaksud dalam legenda kuno yang ada di peradaban tersebut. Akan tetapi alur dan ceritanya-lah yang menjadi daya tarik utama buku ini untuk dibaca dan diikuti. Berbeda dengan yang kebanyakan ada di pasaran saat ini (vampire, penyihir, werewolf, supernatural-thing, zombie dsj).

Terlepas dari masalah diatas, penceritaan disusun rapi dan terstruktur dengan baik dikarenakan hanya menggunakan satu sudut pandang. Mempermudah pembaca untuk berimajinasi dan ‘jatuh’ lebih dalam ke dunia yang ada. Bahasa ringan dan kata-kata sederhana (cenderung lembut tapi tegas dan entah apakah ini efek dari proses terjemahanan) yang digunakan dalam hal penarasian cerita maupun dialog juga turut andil dalam pembentukkan dunia dan atmosfer yang cukup kuat dalam buku ini. Banyaknya istilah Sansekerta pun tidak menghalangi untuk menikmati buku ini karena banyaknya kata-kata serapan dari bahasa tersebut yang kita gunakan dalam keseharian (setidaknya saya yang berasal dari Jawa). Tapi untuk mereka yang kurang mengertipun (ternyata) ada halaman glosarium di bagian belakang buku ini.

Salah satu nilai tambah adalah buku ini sarat dengan nilai-nilai moral yang hampir terlupakan di era modern dan di kala penulis lain berlomba-lomba untuk menulis cerita yang mengikuti minat pasar, buku ini berhasil 'melenceng' dari jalur yang ada dengan menyiratkan sebanyak mungkin pesan moral dalam ceritanya dan hal tersebut berhasil memikat (setidaknya) saya tanpa melupakan bahwa buku ini dibuat untuk dikomersilkan (dan lagi-lagi apakah ini dikarenakan takut merusak pencitraan tokoh utama dan menimbulkan konflik). Pesan moral disampaikan dengan bahasa yang apik dan dikiaskan sedemikian rupa sehingga kita tak menyadari bahwa kita telah membaca sebuah cerita yang penuh dengan bahan pembelajaran hidup.

Dan karena buku ini menggunakan budaya India pada umumnya dan Agama Hindu pada khususnya. Saya rasa, buku ini turut memperkenalkan apa saja yang ada disana dan apa yang terjadi disana. Sehingga tidak hanya cerita saja yang kita dapat akan tetapi sedikit adat yang ada seperti pengasingan anak (yang sekarangpun masih banyak terjadi - pembunuhan anak perempuan lebih tepatnya), tarian, adat istiadat yang menjadi akar masyarakat India (dan sekitarnya) di jaman sekarang, pengucilan orang-orang yang (dianggap) melakukan dosa.

Konflik yang terjadi adalah permasalahan yang sudah lama terjadi dan saya yakini menjadi alasan terjadinya perang dan perpecahan di dunia ini (bukan hanya dalam buku, akan tetapi di dunia nyata juga) yaitu karena adanya perbedaan pendapat dan kesemua pihak merasa bahwa merekalah yang benar (atau setidaknya mereka yakin bahwa mereka benar). Konflik yang dialami antara Suryavanshi dan Chandravanshi-pun (dan satu kelompok lagi yang belum banyak diceritakan - Naga) juga terjadi karena hal yang sama, dikarenakan cara pandang yang berbeda tentang hidup dan cara menjalankan kehidupan itu, setidaknya masalah itulah perbedaan yang sangat kental terlihat. Tapi entah permasalahan apa yang akan terjadi sebagai bahan tambahan penyemangat seri ini selain perjalanan Shiva itu sendiri, sampai saat ini belum terlalu jelas.

Untuk masalah pemilihan adegan pun cukup proporsional dan tidak terlalu memihak ke satu sisi sehingga tetap menjaga buku ini di alurnya berkenaan dengan perjalanan Shiva dalam mencari kebenaran dan memenuhi apa yang Suryavanshi (dan Chandravanshi) yakini bahwa dia adalah Sang Neelkanth. Adegan pembunuhan dalam peperangan yang sedikit sadis (menurut imajinasi saya pribadi), perayaan pernikahan, menari adalah sedikit dari contoh yang tergambar dengan jelas dalam pikiran saya. Entah itu murni karena buku ini atau karena ingatan saya akan kisah Mahabharata dan Ramayana yang saya ikuti saat masih kecil.

Untuk desain sampul (asli maupun terjemahan) saya rasa cukup adil karena meski digolongkan ke genre fiksi fantasi, buku ini terlalu kelam dan sedikit berat karena berkaitan dengan sejarah/ peristiwa/ kepercayaan/ agama dan ceritanya pun (buat saya) tidak sepenuhnya fantasi karena ada beberapa bagian yang benar adanya dan tidak dibuat-buat. Pemilihan warna yang cenderung gelap mendukung pencitraan buku dan trisula mempertegas siapa Shiva itu sebenarnya.




Saat pertama kali mengetahui bahwa buku ini berasal dari India saya merasa buku ini tidak termasuk dalam lingkup bacaan saya dan saya terlalu meremehkannya karena di pikiran saya dan dalam bayangan saya India terlalu identik dengan tarian, lagu, adegan lari-larian dalam hujan, polisi kesiangan, tuan tanah yang jahat dsj (efek terlalu banyak nonton film India – mungkin). Dan saya membeli hanya karena buku ini diterjemahkan oleh penerjemah favorit saya (alasan yang sulit diterima oleh akal kayaknya).

Buku ini juga memainkan emosi saya, membawa saya naik turun sembari menikmati cerita yang ada dan mengajarkan kepada saya, apa yang selama ini luput dari akal. Sebuah bahan instropeksi yang bagus untuk kehidupan bersosial.

Tulisan ini saya buat terlepas dari seberapa tuanya karakter (dan jujur saya tidak pernah memikirkan hal ini) dan hanya berdasar pemikiran saya dan apa yang saya baca.

Original Cover



The Immortals of Meluha on wiki
The Immortals of Meluha on GR
Amish' Official Site (Meluha Author)
Amish on wiki (Meluha Author)

Friday, October 2, 2015

Bloody Valentine | The Cuckoo's Calling | Through the Ever Night | There's Boy in the Girls' Bathroom

Greets!

fyu~~

Lama juga ga apdet blog ini. Karena kesibukan yang berkepanjangan.

Hari ini saya akan mencoba menulis beberapa buku yang saya baca tapi tidak bisa saya tulis satu persatu.




Bloody Valentine by James Patterson

IMG_20150729_180926

Berkisah tentang perjalanan hidup seorang duda yang memutuskan untuk menikah lagi setelah ditinggal mati istrinya karena bunuh diri. Meski diperkirakan meninggal karena bunuh diri, misteri kematian sang istri masih meninggalkan banyak pertanyaan dalam dirinya. Apalagi kejadian tersebut berulang lagi dengan kematian calon istrinya.
Misteri, James Patterson kembali menulis genre yang menjadi makanannya sehari hari. Dengan  gaya menulisnya yang menggunakan kata-kata sederhana dan langsung ke titik permasalahan tanpa berbelit-belit. Bagi penyuka cerita beralur cepat, buku ini sangat cocok buat kalian. Dan meski permasalahannya ternyata lebih pelik dibanding yang tampak dipermukaan, tapi tidak terbuang dengan jumlah halaman yang hanya sedikit.





The Cuckoo Calling by Robert Gailbraith (Cormoran Strike #1)

Setelah strateginya memakai pseudonym gagal di pasaran karena terbongkar saat penerbitan bukunya.

Berkisah tentang perjalanan Cormoran Strike sebagai salah satu detektif swasta yang menyelidiki tentang misteri kematian Lula Landry yang ditetapkan sebagai bunuh diri oleh pihak kepolisian. John Bristow, yang merupakan kakak dari Lula Landry memutuskan untuk menyewa jasa Cormoran untuk memecahkan kasus yang dia anggap sebagai pembunuhan tersebut.

Investigasi dilakukan oleh Strike, kebenaran mulai terkuak, fakta dan petunjuk dikumpulkan yang akhirnya membangun sebuah opini baru.
Sebuah novel detektif yang menurut saya biasa saja, eksplorasi karakter yang dalam tapi membuat saya malah berpendapat sebaliknya. Bosan? iya. Terlalu banyak hal yang "dipaksa" diungkap yang tidak ada hubungannya dengan misteri utama, Bagus untuk keseluruhan seri tapi terlalu banyak.

Hasil akhir yang sudah saya tebak sedari awal, sehingga membuat faktor kejutan tidak terlalu berefek kejutan bagi saya pribadi.

Dibandingkan dengan buku yang beliau terbitkan sebelumnya , The Casual Vacancy, buku ini seolah tidak ada apanya dari segi cerita (atau setidaknya berada di bawah TCV) dan masih sama dalam gaya bercerita (yang berarti tidak cukup sukses dalam mengubah gaya tuisan untuk pseudonymnya). Kalo untuk terjemahannya sendiri...hihihihi....ga terlalu berkesan sih, yang berkesan cuman kenapa ada terjemahan yang agak aneh gitu... iykwim





Through the Ever Night by Veronica Rossi (Under the Never Sky #2)

11821233_541297979352310_674179565_n

Perry and Aria is Back!!

Perjuangan menuju Still Blue masih berlanjut. Usaha Perry untuk menjadi pemuka darah yang dihormati dan disegani. Konflik yang terjadi di kelompoknya sebagai akibat dirinya membawa perpecahan dan berdampak pada penyerangan suku lain.
Buku kedua yang merupakan lanjutan dari Under the Never Sky ini masih seperti buku sebelumnya. Banyak lubang peristiwa yang ditanggalkan, yang meskipun tidak membuat lubang besar dalam perkembangan ceritanya akan tetapi membuat keutuhan ceritanya sendiri berkurang,

Penceritaan sendiri bisa dibilang cukup seimbang dalam hal proporsi romantisme dan aksi petualangan mereka berdua. Selain mereka berdua, tokoh lain yang cukup terangkat "derajat"nya adalah Roar, teman Perry yang menemani Aria dalam perjalanannya mencari informasi tentang Still Blue.





There's Boy in the Girls' Bathroom by Louis Sachar


11262721_1499225147066375_977978211_n

Sebuah buku tentang anak jahil yang melewati batas, Bradley Chalkers. Tidak dipercaya, dibenci semua orang dan dijauh orang-orang di sekelilingnya sebagai akibat dari tingkah laku. Dengan bantuan dan dorongan dari pembimbing sekolah yang baru dia akhirnya dia berusaha merubah perilakunya.
Semua tindakan memiliki konsekuensinya masing masing.

Buku yang menggunakan kenakalan anak sebagai ide utamaya ini mengajarkan bahwa setiap tidakan kita akan menimbulkan akibat bagi diri kita sendiri. Sebuah pembelajaran bagi semua supaya lebih berhati-hati dalam melakukan tindakan yang dirasa terlalu berlebihan. Refreshing, menghibur dan lumayan untuk mengisi waktu luang.



Tuesday, June 16, 2015

Winter People

wpGreets!

Maaf sudah lama nggak ngerusuh, beberapa buku yang sudah dibaca pun belum ditulis coretannya karena rasa malas yang melanda #halah.

Kali ini saya akan menuliskan coretan tentang Winter People karya Jennifer McMahon hasil memenangkan giveaway (Alhamdulillah...rejeki anak sholeh...) yang diadakan oleh editornya :D




Winter is Coming!! #plakk (Salah seri oii!!!)

Sleeper, mereka bilang. Orang yang sudah meninggal dan dibangkitkan lagi oleh ritual karena bagi sebagian orang mereka percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal masih berada di dunia ini. Itulah yang dialami oleh Sara, sang ibu yang belum siap ditinggalkan anak terakhirnya, dia pun berusaha untuk mencari cara untuk menghidupkan anaknya kembali. Apapun bayarannya.

Seorang bibi yang Sara kenal memberikan surat kepadanya untuk dibuka di saat dia sudah dirasa siap. Dan hal inilah yang akan menjadi awal mula semua kisah yang ada.




Saya tidak akan lagi menuliskan garis besar cerita yang ada karena akan mempengaruhi keasyikan membaca kalian. Hahahaha.... (bilang aja malas)

Buku ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu masa dimana Sara hidup berasal yaitu tahun 1908 dan entah tahun berapa di saat dia kecil dan masa sekarang dimana Ruthie dan Katherine hidup. Ceritanya ditulis dengan konsep kilas balik ke awal mula cerita utama yang disandingkan dengan cerita masa sekarang yaitu saat Katherine mencoba mencari tahu tentang rahasia yang disimpan oleh suaminya Gary dan Ruthie yang berusaha menemukan ibunya, Alice yang tiba-tiba menghilang begitu saja saat dia pulang dari bersenang-senang.

Pada awalnya, cerita ini membutuhkan sedikit kerjasama antara mata dengan otak untuk menelaah, apalagi dengan format penulisan yang seperti saya kemukakan diatas. Akan tetapi, setelah beberapa hampir empatpuluh halaman saya pertahankan untuk dibaca, saya mulai bisa menikmati buku ini dan memilah-milah per kejadian dan meruntutkannya (dalam otak).

Ide ceritanya sendiri sederhana, menurut saya. Tapi yang menjadi daya tarik disini adalah bagaimana sang penulis membangun sedikit demi sedikit misteri yang ada. Banyak misteri yang sedikit demi sedikit mulai tersingkap seiring dengan berjalannya cerita dalam buku ini hingga pada akhirnya terkuaklah misteri yang menyelubungi karakter yang ada. Diceritakan dengan alur yang cepat atau mungkin karena paksaan dari jumlah halaman dan gaya bercerita yang menarik, yang sayangnya malah sedikit mengorbankan detil cerita. Penggambaran latar antara tahun 1908 dan Masa Sekarang tidak jauh berbeda satu sama lain. Penggunaan banyak nama bunga, hewan atau tumbuhan dan hal lainnya yang dimaksudkan untuk turut membangun dunia dan garis waktu pada buku ini juga kurang cukup untuk mendongkrak atmosfer, malah seolah hanya sebagai hiasan untuk tulisan ini. Meskipun begitu, Penulis berhasil membuat suasana kelam dan penuh tanda tanya, emosi yang cukup membuat frustasi, cemas, bingung dan bahkan takut dengan gelagat tokohnya.

Bila dibandingkan dengan buku lain dengan genre sama atau hampir mirip buku ini lebih lemah. Sebagai perbandingan sebut saja Anna Dressed in Blood yang sedikit lebih mencekam atau Tunnels series yang sangat membuat tertekan yang meski tanpa hantu tapi cukup membuat saya berpikiran yang tidak-tidak. Buat kalian yang tidak terlalu (benci) suka horor, buku ini dalam taraf ‘aman’ buat dibaca (tepercaya dan sudah saya buktikan sendiri :P)

Untuk desain covernya, saya suka. Suasananya dapat untuk penggambaran judul yang akan tetapi sedikit saya dapatkan di bukunya karena ternyata .... (silakan diisi sendiri setelah dibaca).

Selain itu penulis juga sudah membocorkan hal yang penting dari awal (sekali lagi, silakan cari tahu sendiri) yang membuat ketegangan yang saya rasakan berkurang. Dan pertanyaan saya berkenaan dengan apa yang terjadi pada hal tersebut adalah sebuah tanda tanya dan memang tidak diceritakan karena (saya rasa) hanya sebagai sebuah ‘bukti’. Endingnya sendiri juga sudah bisa saya tebak lagi-lagi karena penulis sudah memberikan petunjuk sebelumnya dan saya yang terlalu banyak melihat serial TV tapi alangkah akan lebih menjengkelkan buat pembaca apabila tidak ditutup seperti itu, meski itu berarti membuka peluang untuk melanjutkan cerita ini ataupun membuat cerita pendamping buku ini.

Monday, February 23, 2015

The Casual Vacancy

image

Akhirnya.....

Sebuah perjuangan pun berakhir di halaman terakhir (yang tidak tampak kalau sudah selesai sebenarnya).

The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong) adalah karya J.K. Rowling pertama setelah lepas dari bayang-bayang kesuksesan Harry Potter (meskipun sampai sekarang masih terpatri J.K. Rowling = Harry Potter).

Langsung saja....

Barry Fairbrother meninggal!!

Sebuah kabar yang mengguncang dan menghebohkan para penduduk Pagford. Barry Fairbrother sendiri adalah salah seorang yang duduk di Dewan Kota Pagford. Menjadi pembimbing Kelompok Dayung di salah satu sekolah, dan mempunyai perhatian lebih kepada para penduduk Fields.

Fields adalah sebuah pemukiman kumuh yang ada di Pagford yang dihuni oleh keluarga yang "dianggap" berantakan oleh sebagian penduduk Pagford. Berseberangan dengan Barry, Howard Mollison, Ketua Dewan Kota yang berpendapat bahwa Fields harus dilepaskan karena menimbulkan citra yang tidak bagus bagi Pagford yang dianggap sebagai pusat alam semesta.

Perebutan kekosongan kursi yang ditinggalkan Barry-pun menjadi hal yang penting. Apakah penggantinya merupakan sekutu warga Fields atau musuh bagi mereka.

Tetapi dampak yang ditimbulkan Barry tidak hanya itu saja, mulai dari perubahan Krystal Weedon yang kehilangan penuntun dan dihadapkan dengan kenyataan bahwa ibunya, Terri yang seorang pecandu dan pelacur, hampir kehilangan hak asuh atas adiknya, Robbie.

Parminder Jawandar, seorang dokter yang sama-sama duduk di Dewan Kota dan merupakan sekutu Barry. Tidak lupa Sukhvinder putrinya (yang dicap sebagai kegagalan) yang merupakan korban bullying di sekolahnya, terutama oleh Stuart Wall a.k.a. Fats yang merupakan anak dari Colin dan Tessa Wall, Wakil kepala sekolah dan guru pembimbing konseling di sekolah tersebut.




Tulisan diatas hanya sepenggal dari cerita dan masalah yang mewarnai Pagford.

Saya pribadi membaca buku ini dengan kandungan "penuh kebetulan". Konflik yang terjadi tidak semata-mata akibat kematian Barry, banyak hal yang sebenarnya terjadi sebelum kematiannya (seperti masalah Sukhvinder dan Gavin-yang diatas tidak saya singgung) akan tetapi 'kebetulan' memuncak pada saat yang sama, Belum lagi pengertian "Kota" yang sebelumnya setidaknya saya berpikiran seluas kota yang saya tinggali saat ini, Solo (salah saya sebenarnya), tapi setelah membaca maka gambaran di otak menjadi lebih kecil lagi dan jarang penduduknya (dibawah 40KK mungkin) karena 'kebetulan' mereka mengenal satu sama lain dan 'kebetulan' saling berhubungan dan hal tersebut jelas terlihat pada saat klimaks.

Dari segi cerita, buku ini terasa lepas dari judulnya. Memang benar, fokus utama ceritanya tentang perebutan kekuasaan (dengan kursi dianggap sebagai simbol sama seperti di Negara kita) tapi dalam eksekusinya saya lebih melihat bahwa permasalahan sehari-hari lebih mendominasi seperti gaya hidup, seks, permasalahan penikahan, bullying, dan semacamnya. Karena itulah bisa kita singkirkan masalah politik yang ada karena tidak berasa intensitasnya yang merupakan alasan utama saya menunda membaca buku ini bertahun-tahun.

Buku ini menyoroti permasalahan yang sebenarnya sering terjadi di sekitar kita meski penyelesaiannya terasa hambar (lagi-lagi masalah Sukhvinder), percintaan Gavin yang dianggap angin lalu oleh Rowling menurut saya, Kisah Fats yang membuat saya memikirkan bagaimana Tessa dan Colin mendidiknya, belum lagi ketidakjelasan cerita yang membuat saya kehilangan arah akan identitas buku ini. Tapi, satu hal yang bisa saya ambil dapatkan dari buku ini, yaitu "Kita bertanggung jawab terhadap tindakan kita dan konsekuensi atas tindakan tersebut datang bersamaan dengan keputusan yang kita ambil".

FYI, Saat coretan ini diturunkan digoreskan, Seri adaptasinya (dengan judul yang sama) yang merupakan hasil kerjasama BBC UK dan HBO US sudah keluar 2 dari 3 bagian yang direncanakan.