Showing posts with label Horor. Show all posts
Showing posts with label Horor. Show all posts

Tuesday, August 16, 2016

[GR] House of Dark Shadows (Dreamhouse Kings #1)

House of Dark Shadows (Dreamhouse Kings, #1)House of Dark Shadows by Robert Liparulo
My rating: 3 of 5 stars

i have a mix feeling about this

first half, it gave me chill and expectation of horror story, the creepiness for the first half almost made me threw it away. because i didn't like horror in any form. XD which is good for a book that gave me direct effect for the reader, but for the second half it turn that it went with mystery. And because of that the good thing happen before suddenly feeling that i felt before is gone. Curiosity? not so much... because the conclusion for this book is just opening for the whole series, don't expect much from it. Cliffhanger, of course. that's why i think i'm gonna readathlon this one XD

But, let me tell you this. Those who reads Narnia and Time Rider, or maybe any other with same materials. that's what it is.

=======

Bermula dari kepindahan keluarga King ke somewhere-with-P-city (lupa wahahahaha....bukan Pasadena yang pasti) karena Ed menerima tawaran pekerjaan sebagai kepala sekolah di sana. Xander yang merasa keberatan karena cita-citanya sebagai Sutradara Film meyakinkan dirinya bahwa tempat tinggalnya yang dulu lebih dekat dengan Hollywood yang berarti lebih dekat dengan cita-citanya.

Pemburuan rumah pun dilakukan karena mereka tidak mungkin tinggal di Motel terus menerus sampai pada akhirnya mereka (atau ayahnya, Ed) menemukan rumah kuno yang kosong dan tampak lama tidak ditinggali. Di rumah itulah kejadian itu bermula.

Dimuai dari jejak kaki aneh yang muncul di dapur, anggota keluarga yang tiba-tiba tidak tampak disatu ruangan dan muncul ditempat lain tanpa sadar, suara-suara aneh yang menyelubungi malam mereka, sampai pada akhirnya David memutuskan untuk tidur sekamar dengan kakaknya Xander. Sampai pada akhirnya....

Bukan horor, tapi misteri...misteri yang sempat membuat saya merinding. Sebagian besar cerita yang ada dibuku ini sukses menurut saya, sayangnya dengan adanya perubahan jalur cerita membuat penulisan cerita seolah langsung berbelok arah, menghilangkan kesan pertama buku ini yang sedikit spooky XD

Sebab itulah (yang jujur membuat saya kebingungan) untuk menilai buku ini. Karena apa bila saya membahas lebih lanjut....saya yakin segi kejutan buku ini akan hilang :D



View all my reviews

Tuesday, October 13, 2015

Together Forever (You're Invited to a Creepover #8)

12070706_144274472593884_1173009958_nAll the girls in Bunk 9 at Camp Minnehaha wake up one morning having had the same terrible nightmare about a sinister boy in an abandoned cabin in the woods. All the girls, that is, except goody-goody Samantha Harmon. The boy in Sam’s dream was handsome, enchanting, and just so real. Even though Sam knows it’s against the rules to venture into the woods without a counselor, she sets off in search of her dream boy—and finds him! Dennis Shaw is just like the boy from Sam’s dream, and he seems really into her. The only problem is that Sam’s twin sister Ali is jealous of Sam’s new boyfriend, and she’ll stop at nothing to make him her own. But when Dennis gets a little intense and says he wants to be together forever with his dream girl, neither Sam nor Ali realizes just how long forever might be….

Paperback: 129 pages

Publisher: June 26th 2012 by Simon Spotlight

Original Title: Gates of Rome

Language: English

ISBN-10: 1442451599

ISBN-13: 978-1442451599

Product Dimensions: 12.7 x 2 x 20.3 cm

Literary Awards:






Sebuah buku yang merupakan bagian dari You're invited to a Creepover ini merupakan buku kedelapan dari dua puluh  yang ada.

Bercerita tentang Sam dan Ali, si kembar yang tinggal di Barak 9, Perkemahan Minnehaha.

Kejadian aneh dimulai saat beberapa gadis bermimpi tentang hal yang sama, seorang anak laki-laki yang diberada di sebuah kabin di tengah hutan, Tidak seberapa lama setelah kejadian tersebut, Sam, salah seorang dari si kembar berjumpa dengan anak remaja yang memikat hatinya dan ingin mereka bersama....selamanya




Sebuah kisah horor pendek yang tidak cukup horor bagi saya pribadi. Dan seperti kebanyakan kisah sejenis, misteri yang menyelimuti dibiarkan menyelimuti seluruh buku sampai pada akhir cerita. Dengan ending yang menggantung, cerita ini masih layak dibaca kalau hanya untuk sekedar mengisi waktu luang yang pendek. Adanya keterbatasan halaman membuat cerita sedikit 'berlari' di beberapa bagian dan melompat, dan kisah romantisme pun sekedar menjadi kisah cinta instan :)

Tuesday, June 23, 2015

Berikutnya Kau yang Mati

11333718_1640654139490071_1210030660_n
it’s not a coincidence. It’s the path they have to walk with.

Yup. Lokal. Karya anak negeri. Dan jangan heran. Saya mendapatkan buku ini melalui Giveaway Goodreads.

Mereka tidak mengenal satu sama lain, akan tetapi mereka mati di saat yang berdekatan. Sebuah kejadian yang janggal apabila disebut sebagai sebuah kebetulan, sebuah kebetulan yang mengerikan. (cukup itu saja yang bisa saya tuliskan)

Sebuah buku bergenre horor yang menceritakan tentang kehidupan enam orang yang berbeda, berjauhan meski bisa dibilang masih dalam satu ruang lingkup daerah yang sama. Kehidupan ke-enam orang itulah yang yang diangkat dan dijadikan bahan cerita pada buku ini. Ide untuk menghubungkan cerita mereka saya sadari ketika saya mulai membaca cerita kedua dan yang ada dalam pikiran saya, “oke, ini menarik”.

Sebenarnya cerita ini ditulis dengan runtut, tapi berdasarkan eksekusinya sedikit kurang menurut saya.

  1. Penggunaan kata banyolan dalam bahasa jawa yang diselipkan dalam beberapa cerita. Mengingat latar belakang tempat sebagian kisah ini terjadi di Purwokerto pada awalnya sedikit aneh ketika mendapatkan dialog dalam bahasa Indonesia karena, Ya, kebanyakan dari mereka berbahasa jawa (dalam kesehariannya sekalipun) yang sangat tidak mungkin dituliskan dalam sebuah novel untuk pangsa pasar nasional. Acceptable. Sampai pada saat saya menemukan banyolan tersebut yang ditulis dalam bahasa Jawa.

  2. Adanya kata-kata serapan (adaptasi maupun adopsi). Menggambarkan tingkat kecerdasan karakter yang ada, Iya. Tapi sebagai pembaca saya sedikit merasa aneh saja. Asumsi, visualisasi adalah beberapa kata yang saya baca. Sedikit tidak nyaman apabila digunakan dalam kalimat dan disandingkan untuk menceritakan/ berdialog padahal ada kata yang bisa mewakili seperti anggap dan gambaran.

  3. Karena penulis menggunakan konsep cerita terpisah, yang terdapat penghubung diantaranya, maka sudah sewajarnyalah ketelitian sangat dibutuhkan (bukan dalam konsep seperti ini saja sebenarnya. Tapi novel biasapun seharusnya juga karena kita tidak mungkin menyebutkan dua fakta yang berbeda untuk hal yang sama). Saya menjumpai bahwa penulis kecolongan (meski hanya satu tempat yang saya temukan) yaitu pada hal. 39 “Kayaknya masih lumayan jauh, deh. Dengan kecepatan normal mungkin tiga atau empat jam kita baru bisa sampai di Dieng.” dan pada hal. 66 “Masih lumayan jauh kayaknya deh. Dengan kecepatan normal mungkin tiga atau empat jam kita baru bisa sampai di Dieng.

  4. Pada salah satu cerita penulis menggunakan kata “.... hari H” yang menurut saya agak aneh. Mungkin perlu mencari padanan kata yang lain. Karena penggunaan kata tersebut dalam cerita ini sedikit melemahkan faktor misteri karena kita akan tahu sesuatu akan terjadi. Apalagi dengan pola yang sudah ketahuan bahwa cerita setelahnya berkaitan dengan cerita sebelumnya.


Secara garis besar buku ini berhasil bercerita dengan baik. Beralur cepat tapi tidak terasa dipadatkan, tidak terasa diburu oleh jumlah halaman yang sedikit. Menarik untuk dibaca sampai selesai. Is it scary? Don’t think so. I’ve seen worse. Tapi meski begitu, buat yang takut dengan cerita horor, kadar buku ini masih dalam taraf ‘aman’ untuk dibaca. J

Tuesday, June 16, 2015

Winter People

wpGreets!

Maaf sudah lama nggak ngerusuh, beberapa buku yang sudah dibaca pun belum ditulis coretannya karena rasa malas yang melanda #halah.

Kali ini saya akan menuliskan coretan tentang Winter People karya Jennifer McMahon hasil memenangkan giveaway (Alhamdulillah...rejeki anak sholeh...) yang diadakan oleh editornya :D




Winter is Coming!! #plakk (Salah seri oii!!!)

Sleeper, mereka bilang. Orang yang sudah meninggal dan dibangkitkan lagi oleh ritual karena bagi sebagian orang mereka percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal masih berada di dunia ini. Itulah yang dialami oleh Sara, sang ibu yang belum siap ditinggalkan anak terakhirnya, dia pun berusaha untuk mencari cara untuk menghidupkan anaknya kembali. Apapun bayarannya.

Seorang bibi yang Sara kenal memberikan surat kepadanya untuk dibuka di saat dia sudah dirasa siap. Dan hal inilah yang akan menjadi awal mula semua kisah yang ada.




Saya tidak akan lagi menuliskan garis besar cerita yang ada karena akan mempengaruhi keasyikan membaca kalian. Hahahaha.... (bilang aja malas)

Buku ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu masa dimana Sara hidup berasal yaitu tahun 1908 dan entah tahun berapa di saat dia kecil dan masa sekarang dimana Ruthie dan Katherine hidup. Ceritanya ditulis dengan konsep kilas balik ke awal mula cerita utama yang disandingkan dengan cerita masa sekarang yaitu saat Katherine mencoba mencari tahu tentang rahasia yang disimpan oleh suaminya Gary dan Ruthie yang berusaha menemukan ibunya, Alice yang tiba-tiba menghilang begitu saja saat dia pulang dari bersenang-senang.

Pada awalnya, cerita ini membutuhkan sedikit kerjasama antara mata dengan otak untuk menelaah, apalagi dengan format penulisan yang seperti saya kemukakan diatas. Akan tetapi, setelah beberapa hampir empatpuluh halaman saya pertahankan untuk dibaca, saya mulai bisa menikmati buku ini dan memilah-milah per kejadian dan meruntutkannya (dalam otak).

Ide ceritanya sendiri sederhana, menurut saya. Tapi yang menjadi daya tarik disini adalah bagaimana sang penulis membangun sedikit demi sedikit misteri yang ada. Banyak misteri yang sedikit demi sedikit mulai tersingkap seiring dengan berjalannya cerita dalam buku ini hingga pada akhirnya terkuaklah misteri yang menyelubungi karakter yang ada. Diceritakan dengan alur yang cepat atau mungkin karena paksaan dari jumlah halaman dan gaya bercerita yang menarik, yang sayangnya malah sedikit mengorbankan detil cerita. Penggambaran latar antara tahun 1908 dan Masa Sekarang tidak jauh berbeda satu sama lain. Penggunaan banyak nama bunga, hewan atau tumbuhan dan hal lainnya yang dimaksudkan untuk turut membangun dunia dan garis waktu pada buku ini juga kurang cukup untuk mendongkrak atmosfer, malah seolah hanya sebagai hiasan untuk tulisan ini. Meskipun begitu, Penulis berhasil membuat suasana kelam dan penuh tanda tanya, emosi yang cukup membuat frustasi, cemas, bingung dan bahkan takut dengan gelagat tokohnya.

Bila dibandingkan dengan buku lain dengan genre sama atau hampir mirip buku ini lebih lemah. Sebagai perbandingan sebut saja Anna Dressed in Blood yang sedikit lebih mencekam atau Tunnels series yang sangat membuat tertekan yang meski tanpa hantu tapi cukup membuat saya berpikiran yang tidak-tidak. Buat kalian yang tidak terlalu (benci) suka horor, buku ini dalam taraf ‘aman’ buat dibaca (tepercaya dan sudah saya buktikan sendiri :P)

Untuk desain covernya, saya suka. Suasananya dapat untuk penggambaran judul yang akan tetapi sedikit saya dapatkan di bukunya karena ternyata .... (silakan diisi sendiri setelah dibaca).

Selain itu penulis juga sudah membocorkan hal yang penting dari awal (sekali lagi, silakan cari tahu sendiri) yang membuat ketegangan yang saya rasakan berkurang. Dan pertanyaan saya berkenaan dengan apa yang terjadi pada hal tersebut adalah sebuah tanda tanya dan memang tidak diceritakan karena (saya rasa) hanya sebagai sebuah ‘bukti’. Endingnya sendiri juga sudah bisa saya tebak lagi-lagi karena penulis sudah memberikan petunjuk sebelumnya dan saya yang terlalu banyak melihat serial TV tapi alangkah akan lebih menjengkelkan buat pembaca apabila tidak ditutup seperti itu, meski itu berarti membuka peluang untuk melanjutkan cerita ini ataupun membuat cerita pendamping buku ini.

Tuesday, March 3, 2015

Koyasan

image

Koyasan

Seorang gadis kecil yang takut dengan hantu seperti saya. Saat teman-temannya bermain di seberang jembatan dia hanya bisa melihat mereka tertawa-tawa bahkan untuk menyeberangi jembatan saja dia tidak berani. Dia merasa bahwa jembatan tersebut penuh dengan hantu-hantu yang menakutkannya. Sebenarnya dia pemberani dalam hal lain, sangat sopan dan suka menolong. Tapi saat berhubungan dengan hantu, dia lebih memilih untuk tidak berurusan dengan mereka.

Hingga suatu hari, adiknya, Maiko yang pada awalnya bersikeras mengajak Koyasan ke kuburan diajak Koyasan untuk pergi ke air terjun yang jaraknya dua jam perjalanan dan melupakan keinginannya tadi. Dalam perjalanan pulang Maiko tiba-tiba langsung berlari ke arah kuburan itu setelah dibentak Koyasan karena kerewelannya. Mengira adiknya akan menyusul langkahnya yang didapatinya adalah suara sunyi tempat tersebut.

Salah seorang penduduk, menemukan Koyasan yang akhirnya bercerita mengenai Maiko yang hilang. Sesaat kemudian Maiko berjalan menyeberangi jembatan menghampiri Koyasan. Dia pun akhirnya merasa lega dan senang, sampai pada akhirnya menyadari bahwa adiknya tersebut tampak kosong tidak berjiwa. Orang tua Koyasan kemudian memanggil Itako, seorang wanita tua yang diharapkan bisa menyembuhkan Maiko. Itako-pun akhirnya menyerah, tidak sanggup menyembuhkan Maiko sembari memberi sandi kepada Koyasan bahwa dialah yang bisa mengambil arwah adiknya yang diambil oleh para hantu dan harus dilakukan malam itu juga.

Dengan tekad untuk menyembuhkan adiknya seperti sedia kala, Koyasan mengumpulkan keberanian untuk menyeberangi jembatan dan menghadapi hantu-hantu tersebut. Akankah Koyasan berhasil mengatasi ketakutannya dan mengambil arwah adiknya yang diambil oleh para hantu itu?




Sebuah buku karya Darren-shan yang pertama kalo saya baca. Buku bergenre "sedikit horor" ini lumayan memikat hati minat saya. Terlepas dari jumlah halaman yang sedikit, buku ini ditulis dalam tempo yang cepat, tidak berkesan dipaksakan dalam penulisannya dan gaya berceritanya pun menarik untuk diikuti.

Kali pertama membaca judul dan melihat cover buku versi terjemahan pikiran saya langsung terbang melayang ke Jepang, Jembatan melengkung yang khas dan kuno, suasana pekuburan yang lengkap dengan batu nisan. dengan pepohonan yang rimbun dan tradisi yang sangat kental.

Buku ini sangat cocok buat penggemar cerita yang ringan (setelah membaca buku yeng menguras otak).

Sunday, February 8, 2015

Erebos

image

Erebos: enter the game and prepare to die. Sebuah buku yang mengangkat RPG sebagai konsep utama. Permainan yang akan memaksamu membuatmu rela melakukan segala hal untuk maju bertahan.

Dalam permainan bertema petualangan ini, pemain diharuskan memilih ras diantaranya vampir, kurcaci, manusia, dark elf, dan bahkan barbar. Pertemuan dengan Si Orang Mati akan mengawali perjalanan dan si Pembawa Pesan yang akan "membantu" dalam memberi imbalan atas usaha kalian serta memenuhi permintaan pemain. Tidak lupa gnome yang akan memberi kalian jawaban dan membuatkan nisan kalian. Rasa ingin tahu dan penasaran akan membuat kalian mati.

Misteri asal mula permainan ini mulai terungkap satu persatu dengan dibantu oleh kelompok gamer dimana cewek yang ditaksir, Emily, bergabung. Konflik demi konflik terjadi yang berujung pada terbongkarnya semua realita yang ada.

Apa sebenarnya Erebos? Kenapa dan apakah yang menyebabkan semua ini terjadi? Apakah Nick akan berhasil menyelamatkan teman-temannya?




Ursula berhasil membuat karya yang memproses mencampuradukkan antara kenyataan dan permainan. Gaya berceritanya sendiri yang meskipun panjang tapi asyik untuk dibaca setiap lapisnya lembarnya. Apalagi dengan dibaginya buku ini menjadi 2 bagian meski tersamar yaitu saat sang tokoh utama, Nick, bermain dan terjerumus ke dunia Erebos dan saat perjalanan penyelidikannya tentang misteri game ini setelah kejadian yang tidak diinginkan menimpa temannya, Jamie.

Perpaduan antara misteri dengan sedikit bumbu horor, petualangan dengan sedikit teka-teki adalah poin tambah buku ini. Tak lupa disisipkan roman sebagai pelengkap meskipun bukan sebagai hidangan utama. Apalagi dengan gaya bercerita yang lugas dan tidak bertele-tele berhasil membangun atmosfer yang kelam dan menegangkan di setiap kalimat yang digoreskan.

Dalam hal ini Ursula juga memperlihatkan bahwa game juga bisa membuat kecanduan dan menjadi pemisah dengan dunia nyata dan kehidupan sosial mereka serta berpengaruh dengan emosional pemain, tak jauh beda dengan pengaruh minuman keras ataupun zat adiktif. Memutar balikkan dunia di mana mereka berada dan memaksa membuat para pemain rela melakukan apa saja untuk mendapatkan "kesenangan" mereka.

Saya merasa puas dengan semua hal yang ada, meskipun beberapa bagian masih terkesan menggantung.

Friday, January 23, 2015

The Spook's Curse (Wardstone Chronicles #2)

image

Hahaha,,,, lupa update yang ini karena otak error sibuk (sok sibuk sih sebenarnya).

Buku kedua Wardstone Chronicles yang ditelurkan dikaryakan ditulis oleh Joseph Delaney ini masih membuat saya ngeri takut. Meskipun tidak semenakutkan buku pertamanya ,Spook's Apprentice, buku ini berhasil memaksa membuat saya untuk jangan tidak membacanya di malam hari dan karena saya sendiri penakut sebenarnya.

Berkisah masih tentang Sang Spook tentu saja bersama sang murid dan Alice yang berusaha untuk membunuh Bane. Bane adalah Roh yang hampir mempunyai wujud fisik, yang mempunyai kemampuan untuk mengendalikan dan menguasai pikiran manusia yang memberikan darah mereka sebagai 'makanan'nya.

Spook yang mempunyai urusan lain, berangkat bersama sang murid untuk menyelesaikan urusannya yang tertunda dengan Bane.

Di lain tempat, Ward terpaksa pulang ke rumah untuk menemui ibunya untuk meminta bantuan.




Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Dibandingkan dengan buku pertamanya, atmosfer buku ini tidak cukup kental apabila dibandingkan dengan buku pertamanya yang membuat saya untuk tidak melepaskannya sampai selesai meskipun ketakutan. hahahaha....

Gaya berceritanya yang lugas dan tidak bertele-tele (menurut saya) sebuah daya tarik tersendiri bagi penulis yang satu ini,.

Sunday, January 18, 2015

Girl of Nightmares (Anna #2)

image

Buku ini merupakan sekuel dari Anna Dressed in Blood karya Kendare Blake.

Masih berkisah sedikit tentang Anna Cas dan pekerjaannya sebagai kesatria pemburu pembunuh hantu.

Setelah kejadian di buku sebelumnya yang mengakibatkan Anna menghilang dari dunia ini. Cas merasa dihantui oleh kenyataan ketakutan bahwa Anna masih 'hidup' dan terjebak dimanapun dia berada.

Bayangan Kejadian demi kejadian semakin membuat meyakinkan Cas untuk mencarinya dan menemukannya serta membawanya ke dunia ini.

Di lain pihak, Carmel pun galau bingung dengan kenyataan bahwa dia harus memilih untuk kembali ke kebiasaan kehidupan dia semula yang bebas dari dunia perburuan hantu atau tetap berada di samping Cas dan membantunya untuk menemukan Anna.

Sebuah misteri baru terkuak dan meninggalkan banyak pertanyaan.




Sekuel yang dieksekusi seperti buku sebelumnya dan mengecewakan menurut saya pribadi.

Banyak hal yang tidak dijelaskan secara rapi dan seolah hanya ditulis begitu saja. Seperti berpatokan terhadap garis cerita utama dan tidak mempertimbangkan faktor lain yang membangun cerita ini.

Ide dan konsepnya sendiri cukup bagus akan tetapi karakter dan gaya bercerita belum terlalu kuat, dan nyaris mudah dilupakan tidak meninggalkan kesan sebagai pembaca.