Tuesday, August 16, 2016

[GR] House of Dark Shadows (Dreamhouse Kings #1)

House of Dark Shadows (Dreamhouse Kings, #1)House of Dark Shadows by Robert Liparulo
My rating: 3 of 5 stars

i have a mix feeling about this

first half, it gave me chill and expectation of horror story, the creepiness for the first half almost made me threw it away. because i didn't like horror in any form. XD which is good for a book that gave me direct effect for the reader, but for the second half it turn that it went with mystery. And because of that the good thing happen before suddenly feeling that i felt before is gone. Curiosity? not so much... because the conclusion for this book is just opening for the whole series, don't expect much from it. Cliffhanger, of course. that's why i think i'm gonna readathlon this one XD

But, let me tell you this. Those who reads Narnia and Time Rider, or maybe any other with same materials. that's what it is.

=======

Bermula dari kepindahan keluarga King ke somewhere-with-P-city (lupa wahahahaha....bukan Pasadena yang pasti) karena Ed menerima tawaran pekerjaan sebagai kepala sekolah di sana. Xander yang merasa keberatan karena cita-citanya sebagai Sutradara Film meyakinkan dirinya bahwa tempat tinggalnya yang dulu lebih dekat dengan Hollywood yang berarti lebih dekat dengan cita-citanya.

Pemburuan rumah pun dilakukan karena mereka tidak mungkin tinggal di Motel terus menerus sampai pada akhirnya mereka (atau ayahnya, Ed) menemukan rumah kuno yang kosong dan tampak lama tidak ditinggali. Di rumah itulah kejadian itu bermula.

Dimuai dari jejak kaki aneh yang muncul di dapur, anggota keluarga yang tiba-tiba tidak tampak disatu ruangan dan muncul ditempat lain tanpa sadar, suara-suara aneh yang menyelubungi malam mereka, sampai pada akhirnya David memutuskan untuk tidur sekamar dengan kakaknya Xander. Sampai pada akhirnya....

Bukan horor, tapi misteri...misteri yang sempat membuat saya merinding. Sebagian besar cerita yang ada dibuku ini sukses menurut saya, sayangnya dengan adanya perubahan jalur cerita membuat penulisan cerita seolah langsung berbelok arah, menghilangkan kesan pertama buku ini yang sedikit spooky XD

Sebab itulah (yang jujur membuat saya kebingungan) untuk menilai buku ini. Karena apa bila saya membahas lebih lanjut....saya yakin segi kejutan buku ini akan hilang :D



View all my reviews

Saturday, August 6, 2016

[QR] See Jane Run

See jane Run

Ish.... bukunya seru woyyyy!!! Ceritanya maksudku.

Buku ini berkisah tentang seorang wanita yang lupa (amnesia) karena hal yang memicu otakknya untuk melupakan kejadian yang dia alami. Dengan baju yang berlumuran darah dan uang US$10,000 yang ada di saku, satu-satunya hal yang dia ingat saat itu hanyalah membeli roti dan susu (tiba-tiba saya juga amnesia..saya ingat dengan pasti bagian susunya.. saya nggak ingat yang satunya..#plakk). Secarik kertas juga dia temukan, kertas bertuliskan nama Pat Rutherford, R.31, 12.30 (CMIIW..saya lupa lagi XD), kertas yang sama sekali tidak membantunya mengingat siapa dia. Kebingungan dan ketakutan menyelimuti dirinya yang kalut, berjalan tanpa arah kesana kemari hingga pada kejadian ada yang mengenali dirinya.

Cerita yang ditulis oleh Joy Fielding ini mengalir begitu saja saat dibaca, terjemahannya yang enak dan mudah dimengerti mendukung ceritanya sendiri yang simpel tapi menarik. Meski buku versi terjemahannya bisa dibilang agak berat untuk ditumpu dengan satu tangan (ceritanya saya curhat) tapi hal itu bukan menjadi alasan untuk meletakkan buku ini.

Buat saya pribadi, cerita ini akan lebih terasa dampaknya apabila penulis menggunakan sudut pandang orang pertama, jadi alih-alih menggunakan karakter yang dijalankannya, pembaca akan tersedot dalam ceritanya dan memaikan karakter tersebut. Rasa tegang, kebingungan, kemarahan dan ekspresi yang dirasakan Jane akan semakin terasa dari sisi pembacanya.

Karakter Jane bisa saya rasakan dan emosi yang dia rasakan bisa saya selami dan dimengerti. Meski terkadang naik turun dan membuat saya berapi-api, meski hal tersebut sebenarnya positif karena penulis berhasil mempengaruhi pembacanya.

Kesimpulannya, buku ini keren, memikat dan gratis #eh.

SPOILER ALERT!!!


(JANGAN di-highlight bila tidak ingin teracuni)


Tulisannya runtut, sampai pada saat kita merasa diberi kejelasan akan keadaan, ternyata masih ada kisah lain di balik cerita tersebut. Twist-nya berhasil meruntuhkan kecurigaan saya di awal saya membaca blurb buku ini, dan Fielding kemudian memutarbalikkan keadaan sekali lagi. Sayang, akhir cerita dibuat menggantung begitu saja. Anti klimaks dipenggal dan diteruskan oleh pembacanya masing-masing di pikiran mereka. Rasa penasaran yang ada serasa dipangkas ditengah jalan dan pembaca disuruh menyelesaikannya sendiri.

Stamp

Thursday, August 4, 2016

[QR] Step on the Crack & Run for Your Life (Michael Bennett #1 & #2)

James

Kyuuu aRRRRR.... ...fufufufu...

Kali ini saya mau ngomongin tentang seri lain dari James Patterson dan co-Authornya Michael Ledwidge, yaitu Michael Bennett (sebuah kebetulan semata). Seorang Polisi detektif yang sering bertindak sebagai negosiator dalam sebuah kasus. Memiliki sepuluh anak angkat dikarenakan dia dan istrinya dipastikan tidak bisa memiliki anak sendiri. Maeve, seorang mantan perawat yang kini dalam kesehariannya bertarung melawan penyakit yang dideritanya. Dengan cinta kasih dari suami dan kesepuluh anaknya. Dia terus berusaha melawan kematian.

Jujur saja, untuk seri ini saya belum tidak merasakan diri saya menyatu dengan buku ini. Entah karena masalah bahasa atau memang dari segi penulisan cerita yang kurang menarik. Kita sebut saja alasan yang kedua, karena seri sebelumnya yang saya baca, Women’s Murder Club yang memiliki kisah dan tema yang sama, saya menemukan banyak daya tarik yang tidak saya temui pada buku ini. Jadi kemungkinan yang bisa saya ambil karena gaya bercerita dan pemilihan kata pada buku ini yang sedikit tidak sesuai dengan selera saya.

Mungkin pendapat ini  terlalu awal karena saya baru membaca dua buku pertamanya yaitu Step on the Crack dan Run For Your Life. Buat saya, dari segi cerita sendiri, banyak hal yang lepas dan ditiadakan.

Pada buku pertamanya, Step on the Crack cerita masih terbantu dengan kisah hidup dari sang detektif itu sendiri bersama istri dan anaknya yang bisa dinilai lumayan bagus sebagai pendahuluan keseluruhan seri yang akan diterbitkan, meski pengenalan tokoh dan latar belakang tidak terlalu kuat karena banyaknya karakter yang dikenalkan sekaligus dalam satu waktu. Untuk buku kedua, cerita pendamping  (cerita kehidupan karakter utama) mendapatkan porsi jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan buku pertamanya. Dan harus diakui, cerita pendamping tersebut lebih menarik dibanding kasus yang sedang dia hadapi, lebih mendapatkan kesan dan perhatian khusus. Pada buku kedua, kehidupan Bennett sedikit disinggung dan kisahnya biasa saja, tak banyak hal yang menutupi kekurangannya.

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, penggambaran karakter yang ada terlalu timpang, atau  bisa dibilang hanya karakter utama saja yang dituliskan sedikit lebih detil apabila dibandingkan dengan karakter lainnya. Bahkan latar belakang atau cerita anak-anaknya sendiri tidak disinggung selain fakta bahwa 1. Mereka anak angkat 2. Mereka keturunan Hispanic, Kulit Hitam, Kulit Putih dan Asia 3. Selebihnya hanyalah pemoles belaka.

Kenapa saya mengkritisi hal tersebut, karena pada blurb buku pertamanya. Hal itulah yang dititikberatkan sebagai penarik minat pembaca untuk seri ini.

Kesimpulannya, sampai pada saat ini (buku kedua) saya belum mendapatkan hal yang “wah” dengan buku ini.

Stamp

Saturday, July 30, 2016

Women's Murder Club (Part 1)

WMC

Goodreads' Link list:
1st to Die (Women's Murder Club, #1)
2nd Chance (Women's Murder Club, #2)
3rd Degree (Women's Murder Club, #3)
4th of July (Women's Murder Club, #4)
The 5th Horseman (Women's Murder Club, #5)
The 6th Target (Women's Murder Club, #6)
7th Heaven (Women's Murder Club, #7)
The 8th Confession (Women's Murder Club, #8)
The 9th Judgment (Women's Murder Club, #9)
10th Anniversary (Women's Murder Club, #10)
11th Hour (Women's Murder Club, #11)
12th of Never (Women's Murder Club, #12)

Wikipedia's Link

Greets!!!

Selamat pagi-siang-sore-malam semuanya.

Kali ini saya bakalan mengulas salah satu seri yang baru saja saya selesaikan buku-bukunya yang saya punya. Yup...buku-bukunya alias dua belas buku berkelanjutan sekaligus. Karena rasanya entah kenapa bukunya sedikit susah dilepas. Women’s Murder Club karya James Patterson dan Andrew Gross (untuk buku dua sampai tiga) dan Maxine Paetro (untuk buku selanjutnya sampai coretan ini ditulis – buku kelima belas).

Kali ini saya akan membahas keduabelas buku pertamanya (yang kebetulan saya hanya punya sampai buku keduabelas) dan mudah-mudahan saya bisa melanjutkannya ke bagian selanjutnya (untuk buku-buku seterusnya). Disini saya akan menggambarkannya secara keseluruhan buku alih-alih satu per satu karena menurut hemat saya, karena ini masuk dalam kategori misteri yang tidak menarik apabila tidak dibaca sendiri (baca: malas bikin revie per judul).




Berkisah tentang keseharian Lindsay Boxer, seorang detektif wanita bagian pembunuhan dari satuan polisi San Francisco (San Francisco Police Department – SFPD) yang bertugas memecahkan dan menuntaskan kasus yang mereka hadapi, dibantu oleh sahabatnya Claire Washburn yang kebetulan pula bertugas sebagai Medical Examiner, Cindy Thomas, reporter dari harian The Chronicle yang terkadang membantu mendapatkan informasi ‘tak resmi’ dan sebagai ganti berita eksklusif yang ditulisnya. Ada pula Jill Bernhardt, ADA - Assistant District Attorney yang tentu saja membantu dalam hal surat penggeledahan dan sebagainya. Kemudian sebagai tambahan, Yuki Castellano, seorang pengacara muda yang cerdas blasteran Jepang Italia.

Mereka tergabung dalam sebuah perkumpulan tak resmi "bermarkas" di Susie's, sebuah tempat makan yang sering mereka gunakan sebagai tempat bertemu untuk membicarakan kasus yang mereka tangani dan kehidupan mereka sehari-hari yang kesemuanya ‘off the record’ atau tidak tercatat dalam laporan apapun sampai secara resmi dan tidak bisa digunakan sebagai bahan dalam penulisan artikel (bagi Cindy tentunya) sampai pada saat Cindy mendapatkan lampu hijau dari Lindsay, yang bisa dibilang sebagai ketua dari Women’s Murder Club.




13744096_1745588749012588_990354281_n

Secara keseluruhan, ceritanya ditulis dengan sangat apik, beralur cepat dan bisa dinikmati meskipun beberapa hal masih kurang dalam hal penggambaran latar belakang. Akan tetapi untruk cerita semacam ini, hal tersebut tidak mempengaruhi jalannya cerita karena hal yang digunakan pada akhirnya adalah hal yang tertulis pada awalnya, petunjuk yang ada telah dituliskan sebelumnya meski harus diakui beberapa hal masih tampak samar.

Karakter yang dipergunakan oleh JP dan co-Authornya pun berhasil digambarkan dengan sangat baik dan jelas. Mulai dari Lindsay yang tinggi (menjulang) untuk ukuran perempuan, barhati gigih, pantang menyerah dan mempunyai insting yang bagus dalam setiap kasusnya sampai ke Cindy yang terobsesi dengan pekerjaannya, cekatan dan gesit dan cerdik dalam mencari cara untuk mencari informasi baik untuk klubnya sekaligus sebagai bahan tulisan untuk artikelnya berkenaan dengan kasus yang sedang mereka hadapi.

Tokoh-tokoh minor lainnya seperti Rich, Brady-pun cukup digambarkan dengan sangat baik.

Untuk beberapa buku awal, cerita berfokus kepada Lindsay yang berusaha memecahkan kasus yang ditanganinya bersama dengan rekan kerjanya, Jacobi Warren. Tapi kemudian setelah buku ketiga, cerita mulai lebih fokus ke kejadian lainnya juga, entah dari sisi Claire, Cindy, Jill, Yuki atau tokoh lainnya (mungkin karena penggantian penulis). Bahkan pada buku kesebelas dan keduabelas, cerita berkenaan dengan Lindsay banyak sedikit berkurang.

Drama, tentu saja ada. Meskipun porsinya sangat sedikit, romantisme dan kehidupan pribadi tokoh-tokoh yang ada cukup untuk memberikan warna kepada buku yang bisa dibilang “sedikit kelam” ini. Meski terkadang, saya merasa masih belum cukup dan ada kalanya lebih tertarik kepada keseharian mereka.

Kasus yang dihadapipun sangat beragam, ada yang terjawab dengan mudah, ada yang membutuhkan usaha lebih, bahkan ada yang masih menimbulkan ketidakpastian sampai akhir. Beberapa kasus bahkan malah bisa diselesaikan tapi masih digantung oleh penulis, yang kemudian saya pelajari akan diselesaikan pada buku berikutnya, entah yang mana karena tidak berurutan. Ada pula kasus yang memberikan kepuasan buat pembacanya dan kasus yang.. yah... membuat emosi...sedikit sih tapi. Buku ini pun diwarnai dengan banyak kejadian tak terduga lainnya. Semua kejadian ditulis dengan baik dan memuaskan.

Jujur saya sendiri, memberikan rating dengan ikhlasnya untuk seri ini antara tiga dan lima bintang, dengan mayoritas empat bintang. Mungkin karena saya menyukai wanita tangguh, cerdas dan berkepribadian kuat. #plakk

Overall, saya puas dengan karya James Patterson yang satu ini. Kebetulan saya membaca buku dalam bahasa aslinya, Inggris, karena setelah mencoba terjemahannya yang diterbitkan oleh Gramedia beberapa lembar. Sedikit lucu bagi saya pribadi (mungkin karena saya hanya baca beberapa lembar).

Women's Murder Club (TV Series)


Women-womens-murder-club-9779111-1024-768

Seperti Sunday at Tiffany's, beberapa buku Alex Cross dan yang terakhir , Zoo.

Seri ini sempat mencicipi layar televisi dalam perkembangannya. mengangkat konsep serupa dengan bukunya, yang sesuai dengan judulnya. Seri 13-episode ini juga mengangkat kisah tentang Lindsay Boxer dan teman-temannya. Akan tetapi, pada seri ini hanya karakter merekalah yang dipakai dan bukan cerita pada bukunya. Banyak perubahan berkenaan dengan korelasi antar permain, kasus dan lain sebagainya. Seperti misalnya, Tom yang merupakan mantan suami Lindsay, kembali dan bekerja di tempat yang sama sebagai atasan sedangkan pada bukunya hanya disinggung pada buku pertamanya, Cindy Thomas bekerja untuk The Register dan The Chronicle adalah pesaing mereka dan masih banyak lagi.

Jadi buat kalian yang pengen mencoba seri tanpa membaca bukunya, tak usah takut. Karena buku dan TV seri jauh berbeda. Tapi, buat saya pribadi, seri ini tidak sebagus bukunya, meski dibantu dengan visual, akan tetapi saya masih menilai bahwa karakter yang ada di buku lebih kuat. Oleh karena itu, jangan menilai bukunya dari serinya.

Sayang, seri ini hanya bertahan satu musim saja, jadi tidak ada kemungkinan kita bisa mengamati perkembangan para karakternya,

imdb's Link
Wikipedia's Link

wmcforfyeah

 

Monday, June 20, 2016

[QR] Steelheart (Reckoners #1)

Quick Review2.jpgGreets!!!

Lagi ketagihan bikin QR nih. hahaha... maaf, ya. Soalnya selain ga butuh riset lama dan baca artikel sana sini sembari ngumpulin data, menghemat waktu pula di sela kerjaan yang bejibun :D

Buku ini ooooooowwwwsooomeeeee..!!! alias keren a.k.a EPIIIIC. Saya suka sama ceritanya yang sedari awal menimbulkan ketegangan tersendiri. Di awali dengan prolog singkat mengenai sejarah karakternya sendiri dan alasan dibalik tindakannya, dan di tutup dengan epilog yang sama menariknya.

Ditilik dari segi ceritanya sih bisa dibilang biasa saya, persengketaan dan perselisihan yang terjadi antara dua atau lebih kubu, dimana yang lain merasa selalu benar.Perpecahan itulah yang diangkat dalam cerita ini, satu pihak sebagai penguasa dan pihak lain sebagai pejuang. Sebut saja Divergent, The Hunger Games dan masih banyak judul lainnya.

Meski beberapa karakternya sendiri kurang kuat penggambarannya, akan tetapi seiring dengan berjalannya cerita semua akan pupus dengan aksi dan kisah yang dibangun oleh penulis dengan cukup kuat. World building juga sedikit lemah atau mungkin memang sengaja "dikorbankan" untuk meningkatkan daya tarik ceritanya, latar belakang sejarah terjadinya konflik juga hanya sedikit disinggung, tapi lagi-lagi itu tidak mengurangi keasyikan ceritanya.

Penggunaan istilah yang dipakai dalam pembagian ras juga harus diakui menjadi daya tarik tersendiri bagi buku ini, Conflux, Firefight, Steelheart, Fortuity dan banyak lainnya yang disebut sebagai kaum Epic (orang yang memiliki kekuatan) apalagi diperkuat dengan misteri yang ada pada masing-masing karakter dan seiring perkembangannya yang lebih memberikan warna baru di setiap halamannya. Dari nama-namanya saja sudah keren, kan?

Jujur, pada awal buku, saya merasakan sedikit kesusahan untuk masuk ke dunia yang ada pada buku ini karena terjemahannya yang harus saya baca dua tiga kali pada beberapa bagian karena terlalu kaku dan formal tanpa adanya penyingkatan atau penyesuaian kalimat. Bukannya malas tapi lebih ke tingkat kenyamanan dalam hal membaca saja. Apalagi buku ini diterjemahkan oleh nama yang baru saya lihat (mungkin saya yang kudet).

Nilai tambah lainnya adalah dari segi emosi. Saya menikmati emosi yang digoreskan pada buku ini. Brandon Sanderson berhasil membuat cerita ini dengan utuh tanpa mengabaikan sisi emosi para pembaca dan menjadikan poin yang bisa ditambahkan pada bagian Pro buku ini.

Dengan sampul warna biru kesukaan saya dan dominasi hitam yang memperkuat ketegasan sekaligus kekelaman dalam ceritanya, meski ada siluet manusia disana tapi tidak terlalu mengganggu... saya yang tidak terlalu suka dengan cover berparas (maksudnya bergambar manusia)

Semoga saja buku selanjutnya lebih sukses dibandingkan dengan buku ini, karena ekspetasi pembaca yang berlebih karena dampak dari buku ini tidak bisa disalahkan.

I'm out.

Stamp

Monday, June 13, 2016

[QR] The Wrath & the Dawn (The Wrath and the Dawn #1)

Quick Review

Greets!!!

Setelah posting bahwa saya tidak minat membaca di Facebook, akhirnya saya mencoba mengambil buku ini dari tumpukan terdekat dan membukanya.

Dengan nuansa dan tulisan di sampulnya yang ke-timurtengah-an sedikit pesimis bahwa saya bisa menikmati buku ini. Tentu saja dengan latar budaya yang sedikit banyak harus diadaptasikan ke dalam otak supaya lebih menguatkan isi dari ceritanya itu sendiri. Tapi, seiring berjalan, semua itu bisa kita lupakan karena dalam ceritanya sendiri aspek latar belakang dan budaya terasa diabaikan, kurang detil dan tidak diceritakan dengan jelas. Kekurangan yang menjadi kelebihan bagi buku ini karena pembaca lebih bisa berkonsentrasi dengan ceritanya sendiri.

Dari segi ceritanya sendiri, memang benar ini sebuah fantasi. Tapi bagi saya, buku ini lebih condong ke roman, pelabelan fantasi hanya karena dalam buku ini mengandung unsur magis yang kadarnya sangat amat sedikit..untuk sementara ini. Perkembangan karakternya sendiri ukup menarik, meski emosi yang terkadang tak kentara terkadang sarat akan jiwa.Untuk perkembangan ceritanya semakin akhir semakin enak untuk dinikmati.

Terjemahannya sendiri buat saya gampang dipahami, dengan lancar. Dengan banyak istilah yang ditulis sesuai dengan bahasa aslinya dan disertakan glossarium pada lembar akhir bagi mereka yang ingin memahami lebih. Typo? tentu saja menghiasi beberapa halaman yang ada, biasanya kehilangan satu huruf atau ketambahan.

Btw, saya yang pada saat ini malas baca bisa menyelesaikannya dalam beberapa jam karena buku ini agak susah untuk dilepas...entah kenapa >.<

I'm out.

Stamp

Saturday, June 4, 2016

UnWholly (UnWind Dystology#2)

IMG_20160604_103244.jpgBerkat Connor, Lev, dan Risa - dan pemberontakan mereka di Kamp Akumulasi Happy Jack - orang tak lagi dapat menutup mata tentang praktik pemisahan raga.

Pemisahan raga memang dapat membebaskan masyarakat dari remaja bermasalah sekaligus menyediakan organ tubuh yang sangat dibutuhkan untuk transplantasi, namun moralitas perbuatan itu dipertanyakan. Sayangnya, pemisahan raga telah menjadi bisnis besar, dan diminati kekuasaan politik serta perusahaan tertentu, yang bukan hanya ingin melanjutkannya, tapi juga memperluas pesertanya: narapidana dan orang miskin.

Cam adalah produk pemisahan raga; dibuat dari penyatuan organ anak-anak Unwind lain. Dia remaja yang secara teknis tak ada. Frankenstein Futuristik, itu sebutannya. Selagi berjuang mencari identitas dan makna dirinya, dia bertanya-tanya apakah seseorang hasil penyatuan ulang dapat memiliki jiwa. Dan ketika tindakan seorang pemburu hadiah sadis tak sengaja mempererat takdir Cam dengan takdir Connor, Risa, dan Lev, dia juga jadi mempertanyakan apa arti kemanusiaan itu sendiri.

UnWholly merupakan buku pendamping Unwind. Menantang kita untuk mempertanyakan di mana sebenarnya kehidupan dimulai dan di mana kehidupan berakhir - serta apa arti hidup sebenarnya.

Paperback:  528 pages
Published: 12 Mei 2016 by Gramedia Pustaka Utama (first published August 28th 2012)
Original Title: UnWholly
ISBN-10: -
ISBN-13: 9786020318073
Language: Bahasa Indonesia
Series: Unwind Dystology #2




Perjuangan mereka terus berlanjut. Dengan menghalangi Kamp-kamp yang ada untuk mengambil anak pungut hingga membajak mobil yang membawa anak-anak persembahan untuk menjalani pemisahan raga. Pihak pemerintahan yang mulai membuka mata dengan keberadaan 'kuburan' yang berisi banyak desertir disana. Dan Warga Proaktif sendiri yang mulai menjalankan siasatnya untuk menunjukkan taringnya dimata dunia.

Setelah bertahun-tahun, akhirnya GPU memutuskan untuk melanjutkan seri ini (fyu~~~). Dan mudah-mudahan untuk dua buku selanjutnya juga. Dengan penerjemah yang sama untuk meminimalisir adanya penggantian istilah/ penyebutan hal-hal yang ada di buku ini supaya tidak menimbulkan kebingungan yang kerap terjadi apabila adanya penggantian penerjemah. Mudah-mudahan..... secepatnya mengingat di negara asalnya sendiri sudah tamat dua tahun yang lalu. :D #berdoa

Entah kenapa untuk penyebutan seri ini sebagai dystology, sepele tetapi membuat saya penasaran, apakah karena Tetralogi dan Quadrilogi terlalu panjang sehingga dibuat dystopia-logy, yang sempat saya pikir tak akan berbatas seperti Orson Scott Card membangun dunia fiksinya .
A dystopia (from the Greek Ī“Ļ…Ļƒ- and Ļ„ĻŒĻ€ĪæĻ‚, alternatively, cacotopia, kakotopia, or simply anti-utopia) is a community or society that is undesirable or frightening.

-logy (Suffix)


  1. Something said, or a way of speaking, a narrative. Examples: haplology, eulogy, trilogy, apology







Buku yang ditulis dengan cara berganti-ganti karakter utama penceritaan, disusun dengan rapi. Banyak karakter (dan beberapa kejadian) yang diceritakan pada setiap bagiannya sebagai daya tarik seri ini karena kita akan berasumsi tentang hubungan apa yang akan dimiliki bagian-bagian tersebut dengan keseluruhan cerita. Yang semakin lama semakin jelas seiring dengan berlanjutnya cerita.

Jujur, pada awalnya saya membaca seri UnWind, saya sempat merinding mengetahui ide ceritanya, Pemisahan Raga. Cover buku pertamanya pun sedikit membuat saya takut, saya yang melihat darah berceceran saja sudah mual. Beruntung pada kenyataannya, kisah penceritaannya tidak sedalam itu dan masih dalam batas toleransi malah bisa dinikmati sambil makan makanan ringan tanpa rasa mual (INI PENTING!!!).

Buat yang mengharapkan banyaknya aksi yang ada di buku ini, dijamin kalian akan kecewa karena hanya sedikit yang terjadi pada buku ini. Tapi jalan ceritanya sendiri lebih menarik dibandingkan hal tersebut, perkembangan masing-masing karakter yang beranjak dewasa, pemikiran dan sikap yang lebih matang membuat mereka lebih hidup.

Masalah pemisahan raga masih menjadi masalah utama seri ini (tentu saja #plakk) akan tetapi pada buku ini perkembangan cerita beralih ke masalah lain, masalah penyerbuan Polisi Juvey yang tinggal menunggu waktu. Di dalam tempat itu sendiri mulai muncul bibit perpecahan yang berasal dari dalam, mulai dari tipu daya sampai ke pengkhianatan turut mewarnai buku ini. Kisah perjuangan dan jalinan persahabatan yang manis, dibumbui dengan kisah percintaan yang tak banyak diumbar masih menjadi senjata utama seri ini selain gaya berceritanya yang enak dinikmati.

Buku ini berisi sedikit banyak cerita yang sama dengan buku pertamanya, UnWind, tentang penjemputan anak pungut, Starkey yang dijemput untuk menjalani pemisahan raga.  Anak pungut adalah anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua yang tidak menginginkan mereka di salah satu rumah. Hukum menyatakan bahwa siapapun yang mendapati bayi yang ditinggal di depan rumahnya, diharuskan untuk merawatnya sampai pada hari penyerahan.

Selain itu ada pula anak persembahan, Miracolina, anak kandung yang biasanya diserahkan untuk menjalani pemisahan raga karena yakin dan percaya bahwa itulah takdir mereka. Miracolina percaya bahwa apa yang dia lakukan itu mulia, mulai dari sedari awal bahwa dia dilahirkan sebagai donor sumsum tulang kakaknya yang menderita leukimia dan percaya bahwa pemisahan raga adalah tugasnya selanjutnya.

Ada pula (mantan) polisi Juvey, Nelson yang berniat untuk membalas dendam kepada Connor karena apa yang dia lakukan padanya.

Risa, Hayden dan Trace yang turut membantu perjuangan Connor bertahan dan mewujudkan penghapusan hal yang berkenaan dengan pemisahan raga, karena mereka yakin bahwa mereka juga mempunyai hak untuk hidup secara utuh sebagaimana layaknya anak kandung.

Sedangkan Lev, berada di tempat lain, hidup bersama kakaknya setelah ditolak oleh kedua orang tuanya karena statusnya sebagai penepuk yang tidak menepuk. Dia dan kakaknya – Marcus, turut membantu apa yang diperjuangkan Connor dengan cara yang berbeda.

Cam adalah salah satu karakter baru yang ada pada buku ini, yang kita ketahui bahwa dia adalah hasil dari penyatuan raga yang diambil dari banyak anak yang dijadikan satu secara utuh oleh Roberta, seorang Warga Proaktif.

Original Cover

13545075.jpg

Cover Lainnya

[gallery ids="1234,1235,1237,1236,1233,1238" type="rectangular"]